Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Lantas Kau, Senja atau Hujan?

"Kenapa Hujan?" , katamu, bingung. Bingung karena hujan selalu menjadi inspirasi terbesarku. Dan juga senja. Hujan dan Senja. Dua hal yang bertolak belakang. Yang satu menawarkan romantisme dingin dan sendu, sedangkan yang satu lagi melankolisme hangat dan tenang. Meski keduanya bisa menjadi terjemahan dari rindu, pilu, benci, dan cinta. Oh!!! Apalagi kenangan! Aku sebenarnya tak lebih bingung dari kamu. Kenapa? Sini aku ceritakan. -- Tentang Hujan . Bulirnya yang basahi bumi, seolah mengajarkan kita untuk terus tabah. Tabah dalam memberi karena memberi bisa hilang bagai tak berarti. Tabah dalam memberi karena dari memberi kita belajar keikhlasan. Kau pikir tanah tahu seberapa banyak tandus yang hilang saat hujan turun? Atau cacing. Apa kamu mau memberi minum cacing secara cuma cuma seperti hujan? Eh, itu tumbuhan di belantara hutan. Ada gitu yang mau nyiramin satu-satu pohonnya? Enggak kan? Apa kamu bisa menjadi hujan? Tidak! Kamu tidak bisa menjad...

SENJA MENGAJARIKU ARTI KEHILANGAN

Aku pernah membenci senja, karena setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana. Senja itu menjemput malam, dimana hanya ada gelap dan sunyi. Dan aku membenci itu. Jika dihadapan ku disuguhi pilihan antara senja dan fajar, tentu saja aku akan memilih fajar. Kau tahu alasannya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi hari, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Pancarannya yang menghangatkan dan begitu terang pun mampu menembus ranting pohon yang saling menyilang. Terbitnya mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala tawa anak manusia tak akan dapat disembunyikan. Indah bukan? Dan senja? Bukannya aku benci. Aku hanya sedikit enggan dengan kehadirannya. Seakan-akan mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak kutemui cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya setitik cahaya lampu yang tak berarti. Tetap saja ...

Aku Malu Dikatakan Aktivis Dakwah

Dakwah kini semakin kehilangan jati diri generasinya. Atau hanya sekedar menciptakan generasi untuk kepentingan tertentu? Tentu bukan hanya untuk pemilu, atau semangat kampanye di satu kubu, pasti lebih dari itu. Atau sekedar menjadi simpatisan politik lalu disebut kader tangguh? Sementara mutaba'ah yaumiyah kusut semakin lusuh. Hijab luntur tak lagi kaku seperti dulu, maklum mereka baru ngaji seminggu, kata sesepuh. Ikhlas berdakwah kini hilang dalam qolbu, kalau bukan karena nasi bungkus gak laju, atau karena ada yang menunggu di batas waktu. Syuro' kalau gak "ngakak bareng" gak seru, si ikhwan becanda merayu, si akhwat pun tersipu malu. Eh tunggu dulu, kok dengan saudaranya saling menggerutu? katanya satu tubuh, tapi ukhuwah bak kapal runtuh. Terkadang tidak habis fikir, mengapa kita bisa terjebak dalam lingkaran tarbiyah ini. Tidak sedikitpun ingin mundur atau keluar dalam barisan, walau terkadang kekecewaan datang, kefuturan melanda, atau bahkan seng...

Aku Terjebak (lagi)

Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam jernihnya selalu menatapmu bersamanya. Selalu ada yang tak diceritakan, langit kepada hujan. Entah pagi bersambut kabut, Atau mendung yang bikin murung. Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing. Serupa gelombang lautan, cinta datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kau kejar. ~ Cinta bisa memberikan cahaya Pada mata yang sekalipun buta. Cinta juga bisa jadi petaka Meski pada orang yang di surga. Ah, biarlah … Cinta tak butuh kata-kata. Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu. ~ Gemelisik daun kering menyadarkanku bahwa semestamu bukanlah aku. Kerontang daun terseret angin melebur menjadi luka hatiku. Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percay...

Jika Takbir adalah Penguat. Maka, Gemakanlah!!

Wahai pengaku berbudaya dan pendakwah memiliki rasa! Buruknya adabmu telah menggores ruang dalam qalbu perindu takbir dan tahmid Engkau akan menuai dengan setiap langkah laknat di bumi dan di langit Tunggulah olehmu teriakan para mujahid,membela langit Kelitanmu, tameng kemunafikanmu bahkan penguasa licikmu tak akan kuat menahan dobrakan kalimat yang meruntuhkan singgasana kisra dan kaisar di masyrik dan maghrib Kamu akan terpuruk dalam sampah jiwamu ditengah genangan limbah kebencianmu terhadap umat pembawa panji tauhid. Allahu Akbar, tunggulah wahai pemuja kemunafikan dan kesyirikan! Kami akan datang membawa obat untuk jiwamu yang sedang sakit..

Kita Memang (tak) Sendiri

Aku sangat menikmati saat-saat dimana aku terdiam sendiri bersama jiwaku, menyaksikan bagaimana dunia bergerak dengan ritmenya. Seakan-akan keluar sejenak dari kemelut dunia dan menyaksikannya dari luar angkasa. Kesendirian bagi saya seperti teman paling setia dan paling nyaman untuk diajak bercerita. Bersama kesendirian saya merasa lebih bisa memaknai arti kehadiran dan merenungi lebih dalam hakikat keberadaan kita di dunia. Bahwa kita sendiri. Tidak pernah bersama siapa-siapa. Maka memeluk sepi untuk ku bukanlah sesuatu yang pantas untuk dikasihani, justru sesuatu yang langka yang sering kucari. Berapa banyak orang yang tidak tahan dengen kesendirian? Padahal bersama kesendirian kita bisa mengartikan lebih dalam arti kehadiran. Bersama dengan kesendirian kita menjadi lebih menghargai waktu dan dimensi yang dibuatnya. Aku tidak pernah merasa menyedihkan saat sendirian, bahkan justru merasa lebih merdeka ketika sendirian. Seorang teman pernah bertanya padaku, mengapa aku l...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

Si Pinky yang Berbahaya

Sebenarnya gak pernah kepikiran buat nulis ini. Cuma gara-gara iseng buat snap dan ada yang ngoment membahas tentang si merah jambu. Sempat booming sih, tentang virus merah jambu. Apa itu virus merah jambu? Virus merah jambu atau sering kita sebut "cinta" adalah pembahasan panjang yang susah untuk diendingkan. Setiap orang pasti pernah merasakan cinta, setiap orang ingin dicinta dan mencintai. It's the lumrah loh. Uyee!! Merasa aneh sendiri sih nulis ini. Because, gak pernah seserius ini kalo nulis. Yes that's true, kali ini tulisanku gak berbau kegalauan yang mengarah baper kok. Tenang aja. [Sok tau banget sih kedengarannya] it's oke lah ya, terlepas dari hal yang serius yang ingin saya tulis [serius!] Akhir-akhir ini saya memang suka bercanda dan candaan saya itu serius loh. Virus merah jambu sering kali menyerang remaja-remaja saat ini. It's may be. Bisa jadi virus merah jambu ini adalah sebuah istilah yang menggambarkan keadaan ruang hati someo...

Mencoba Memahami

Menemukanmu adalah sebuah defenisi bahagia yang sangat sederhana. Menemukanmu pun ibarat peristiwa Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya, ia berlari dari bukit safa ke bukit marwa hingga tujuh kali. Tapi ternyata, apa yang ia cari ada didekatnya. Menemukanmu adalah tentang kepercayaan mengenai kepastian janji Tuhan. Aku pernah cemburu pada dinding media sosial yang kau punya. Terlebih aku cemburu pada kertas yang lebih tau mengenai perasaanmu. Kau lebih mempercayainya dibanding aku. Aku pernah cemburu pada kejadian-kejadian dimana aku tak ada disana. Aku pernah cemburu pada fotomu yang dengan mudahnya tertawa lepas, [sekali lagi] tanpa aku. Lebih-labih cemburuku bertambah dengan tulisan-tulisan yang mengiringi fotomu, ntah kau tunjukkan kesiapa. Aku dan kamu adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Aku dan kamu adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang ntah begitu saja. Dalam rentang waktu menahun yang menahan ...

Kau adalah Pemilih yang akan Dipilih

"Kamu harus menunda pernikahanmu untuk sesuatu yang lebih besar" itu nasehat dari master syifu, Felix Y Siauw. Iya memang benar, menikah salah satu penyempurna separuh dari agama. Separuh! Separuhnya lagi? Benar, menikah akan membuka pemikiran-pemikiran baru. Tapi, bukankah di dunia ini selalu berpasang-pasangan? So, jika membuka pasti akan menutup. Toh? Kita tidak bisa pungkiri bahwa dengan menikah kita akan sulit melakukan sesuatu. Setuju? Otomatis jika sulit untuk explorasi, dakwah akan tersendat karna kamu sudah memiliki kewajiban dan tanggung jawab lain yang sulit untuk ditinggalkan. Ketahuilah dakwah itu bukan sebuah profesi, tapi dakwah adalah sebuah kewajiban. Kita tau laki-laki pasti suka dengan perempuan, begitupun sebaliknya. Itu fitrah dan tandanya kamu normal. Tenang girls.. Jika kebutuhan menikah belum terpenuhi kamu gakkan mati kok. Karna menikah bukan hajatul udhowiyah. So, jangan terburu-buru. Jika kamu masih bisa menjaga diri dari fitnah ...

My HIJAB, My STYLE

Berhijab dengan sempurna seperti tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah suatu kewajiban setiap muslimah, sama seperti wajibnya shalat, puasa, zakat. Berhijab adalah aktivitas ibadah mulia yang dilakukan oleh setiap muslimah, hijab ini tidak hanya memuliakan dirinya namun juga akan banyak orang seperti ayah-ibunya, kakak-adiknya, suaminya, anak-anaknya serta orang-orang yang disekitarnya (Agus Wibowo, 2017: 145) “Mbak gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus. “Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah. Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai. Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek da...

UNTUK APA?

PENGECUT!! Iya kau memang benar.. Huruf saja membutuhkan jeda agar bisa terbaca Lalu, kenapa kau masih bertahan dan memaksa hati terluka lebih parah? Berhentilah sejenak atau jika kau bisa tak perlu lagi kau teruskan Untuk apa terus berjuang dan pada akhirnya hanya berbuah sia-sia? Setiap diri membutuhkan jeda.. Semua memiliki titik jenuh.. Dan semua pasti akan lelah pada akhirnya Bukankah begitu? Lalu, untuk apa kau terus paksakan hatimu untuk bertahan? Bukankah itu akan sia-sia? Semua butuh jeda.. Bahkan jika semua tulisanku tidak memiliki rangkaian jeda pasti kau sulit membacanya, bukan? Kau lihat sebuah koma pada susunan kalimat yang ku buat? Ku yakin kau pasti memahami apa maksudnya, bukan? Dan kau lihat titik disetiap paragraf? Maksud dari titik itu adalah agar kau tau dimana seharusnya berhenti Bukankah yang memiliki awal pasti akan menemukan akhir? Begitu pula dengan kisah ini.. Jika bukan tersebab sesuatu yang pasti, Tentu kau akan berakhir juga...

Bohong Jika Ada yang Mampu Menggantikanmu

Tulisan ini adalah tulisan yang kesekiannya aku tulis untuk orang hebat yang tak pernah tergantikan posisinya Iya, tulisan ini untuk ayah Ayah.. Aku tak tau kata yang pantas ku berikan untuk mu itu seperti apa Aku tak mampu membalas kebaikan ayah dari sebelum aku ada di dunia hingga aku sebesar ini Ayah.. Sekarang kau tak seperti dulu Sekarang kau tak sekuat dulu Rambutmu pun kini tak sehitam dulu Tapi ayah tenang saja, meskipun begitu kau tetap gagah dihadapanku Ayah.. Aku suka sedih jika mengingat ayah Tapi ayah selalu kuat didepan ku, tak pernah sekalipun aku dengar ayah mengeluh Tapi, seringkali anakmu ini suka sekali mengeluh Jika dibandingkan dengan ayah lelahku ini tak ada apanya ketimbang lelahmu Kau yang dari pagi bekerja tanpa kenal lelah, tapi seakan-akan lelahku melebihi ayah Ayah.. Maafkan aku.. Maafkan keegoisanku selama ini.. Setiap pulang sekolah ayah selalu bertanya “nak, bagaimana disekolah mu tadi?” dengan cueknya aku bilang “sudahlah yah...

Kehadiranmu Tak Perlu Ku Sesali

Apa kabarmu sekarang? Ku harap kau selalu baik-baik saja. Iya, bukan? Setelah sekian lama kita tak tegur sapa ku harap kau bahkan aku tak lupa bagaimana mengawali pembicaraan diantara kita [nantinya]. Kicauanmu di media social menjadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan. Jika saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca ini adalah tentangmu. Kujamin kau hanya akan tertawa pelan mengetahui betapa alaynya aku. Rasanya aku tak keberatan jikalau aku kehabisan sarapan pagiku. Selama masih bisa mengetahui kabarmu, lapar sepertinya masih bisa ku tahan. Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu satu hal. Aku tak peduli kau mau bilang aku seperti apa. Untuk kali ini biarkan aku bersikap egois padamu. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat hanya bisa ku ucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini menjadi perantara dari itu semua. Apakah kau masih ingat pagi itu? Perkenalan singkat karna kau hanya tanya siapa namaku. Lal...

Sebuah Surat Rindu Untukmu

Ayah.. Ada sebuah surat dari anak perempuanmu. Sebuah surat rindu yang selama ini aku rasakan.  Ayah pasti kau lihat aku sudah tumbuh besar, ayah. Umurku sudah 19 tahun, ayah. Aku sudah bisa mencari uang sekarang  Ayah mungkin suatu saat umurku panjang,umurku semakin bertambah dan aku bakal menjalin sebuah pernikahan Aku sedih, yah.. Ketika aku menikah nanti ayah tak ada disampingku Menjadi wali ketika aku menikah nanti Ayah.. Jika aku hitung-hitung sudah cukup lama aku tak menangis dipangkuanmu Sudah terlalu lama kau tak mengusap air mataku ketika aku menangis Dan sudah terlalu lama pula kau tak melakukan haal konyol ketika lutut ku berdarah Saat itu diusiaku 4 tahun aku terjatuh dari sepeda roda tiga ku dan lututku berdarah Kau langsung benghampiriku dengan singap kau meniup lututku dan mengatakan “ah tak apa, putri ayah yang satu inikan kuat”  saat itu aku mengangis sembari tersenyum kecil ketika mendengar perkataan ayah. Setelah itu ayah langsung m...

Assalamu'alaikum Senja

Senja.. Taukah kau caraku mencintaimu bukanlah dengan mengucapkan “I Love You” Kemudian pulang dengan mengucapkan “I Miss You” Bukan.. Bukan seperti itu. Caraku mencintaimu adalah bagaimana aku bisa menjaga dirimu dan juga diriku. Terutama menjaga cintaku kepada Rabb. Memang tak seperti wanita yang lain, yang dengan gampangnya menerima bunga. Iyaa, aku tak seperti itu. Namun perlu kau tau, menurutku setumpuk doa lebih jujur untuk menyatakan cinta. Bukan sekedar datang kemudian menggenggam, padahal belum halal Senja.. Memilih untuk menghilang Memilih untuk tak mengabarkan Jauh lebih menantang ketimbang datang kemudian meninggalkan Caraku mencintaimu tak perlu kuberi tau Cukup rindu menjadi temanku dikala malam menjadi saksi bisu Benar.. Malam menjadi saksi bisu bagaimana sosok yang bersembunyi dalam sepi Hanya untuk meminta agar kau dapat berada disisiku Tidak.. Mencintaimu dengan cara seperti itu tidak pernah membuatku bersedih Karna caraku berasal dari dalam h...

Masih Tentangmu

Apa kabar? Sudah lama tak jumpa. Jangankan jumpa, saling sapapun tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu. Dan kamu?? Entahlah… Masih peduli dengan hidupku atau tidak? mungkin kamu akan bertanya kenapa aku menulis ini semua? Jika kamu mengira aku ingin mencuri perhatianmu, tentu saja tidak.. Untuk apa?? Jika kamu mengira aku ingin mendramatisir keadaan itupun sama sekali tidak.. Aku menulis semua ini hanya karna aku rindu. Apakah kamu tak pernah merasakannya? Ku harap kamu sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kamu mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis.. Setidaknya kamu mengingat susahnya usaha dan mudahnya menyerah. Cinta kita hanyalah cinta monyet, cinta yang tumbuh diatap sekolah. Cinta yang terus tumbuh, karena pipi merona saat aku mendengar suaramu. Manis. Aku bisa merasakannya. Walau aku hanya bisa mengingatnya. Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu, kita terlihat canggung. Tapi kita tersenyum sesudah...

I'M FINE

Apa kabarmu sekarang? Ku harap kau selalu baik-baik saja. Iya, bukan? Setelah sekian lama kita tak tegur sapa ku harap kau bahkan aku tak lupa bagaimana mengawali pembicaraan diantara kita [nantinya]. Kicauanmu di media social menjadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan. Jika saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca ini adalah tentangmu. Kujamin kau hanya akan tertawa pelan mengetahui betapa alaynya aku. Rasanya aku tak keberatan jikalau aku kehabisan sarapan pagiku. Selama masih bisa mengetahui kabarmu, lapar sepertinya masih bisa ku tahan. Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu satu hal. Aku tak peduli kau mau bilang aku seperti apa. Untuk kali ini biarkan aku bersikap egois padamu. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat hanya bisa ku ucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini menjadi perantara dari itu semua. Apakah kau masih ingat pagi itu? Perkenalan singkat karna kau hanya tanya siapa namaku. ...

AHLAM SA’IIDAH

Hai! Buat kau yang tak pernah bosan aku sapa sampai saat ini. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau sedang burpura-pura sibuk didepanku? Tak apa, ini hanya sebuah kalimat yang tak berarti yang selalu ku suguhkan untukmu. Baru saja tadi pagi kau pamit padaku, ntah kenapa aku merasa ada yang hilang. Taukah kau sesuatu yang hilang itu? Dirimu. Iya, kau. Ingat pertama kali kita bertemu? Sedikit canggung dan malu-malu,namun itu lucu. Aku hanya ingin bertanya kabar saja tadi, tapi kenapa sampai kepembahasan ini, ya? Jangan lupa kopi hitam manis yang biasa menemanimu bercengkrama bersama dinginnya pagi yang ditemani dengan kursi kosong yang tepat disebelah kirimu. Satu saat nanti akulah yang akan mengisi kursi kosong itu dan akulah yang akan bercengkrama denganmu. Kuharap kopi hitam itu saat malam yang tak kala dinginnya dengan suasana pagi akan tetap hangat, dan tentunya selalu setia padamu. Mungkin saja kau mengira ini terlalu berlebiahan. Tapi, inilah aku.  Terlalu kuat m...

Kamu Adalah Pemeran Utama dibalik Coretan Tinta Nakalku

Pernahkah terlintas dipikiranmu bahwa kita telah cukup lama berkelana? Perjalanan kita memang sudah cukup jauh Rintangan bahagia selalu tak pernah absen Karnamu Dalam coretan tintaku tak hanya terisi oleh kesedihan saja Namun, juga bahagianya diriku karnamu Saat itu, Aku merasakan rasa yang teramat bersalah untuk seberkian kalinya Aku yang membawamu masuk kedalam kisahku tanpa memikirkan Bagaimana dirimu harus kupertahankan Inginku Ku tak ingin dirimu pergi Namun, kuyakin Satu saat nanti Semua ini akan melebur menjadi ‘kita’ Yang telah berjalan jauh selama ini Salahku Jika aku telah mengajakmu bermain dengan perasaan Karena, rasaku terus menuntutmu untuk tetap bersamaku Bak memaksamu untuk tetap berada dalam coretan tinta nakalku

TERUNTUK KAMU

Gagal? Iya, lebih parahnya lagi aku mengalami dua kegagalan dalam waktu yang bersamaan. Kegagalan pertamaku adalah memilikimu dan kegagalan keduaku adalah melupakanmu. "Saat gagal menyapa, bukan berarti aku harus menyerah. Belajar dari kalah untuk menang. Belajar dari patah untuk kuat. Sebab diriku tak tau jalan mana yang akan membawaku terlepas dari semua ini." Jika mendengar kata itu aku bersemangat tapi tidak jarang aku benci kata-kata itu, seolah-olah kata-kata itu sedang mengejekku. Aku telah lelah selalu bergelut dengan masa lalu. Aku ingin bebas! Aku ingin terlepas! Bebaskan aku! Ku mohon siapapun itu. "Teruntuk kamu. Tolong lihat langit itu, karena disitu ada setitik rindu yang kutitip." Setiap titik itu selalu kusimpan untukmu. Iya, hanya untukmu seorang. Setitik itu akan menjadi tumpukkan rindu yang semoga saja kau dapat melihatnya dan kau dapat pula merasakannya. Merasakan bahwa ada seseorang yang sedang merindukanmu. Disini! "Bak orang ...

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...

A LETTER AND A SONG ABOUT LOVE

Puisi? Prosa? Menulis? Tak perlu kau tanyakan lagi aku sudah lama jatuh cinta pada semua itu. Kecintaanku pada sebuah karya tulis sekarang akan terbagi oleh kecintaanku padamu. Timbul tanya pada diriku, apakah aku akan mencintaimu seperti aku mencintai hobiku? Atau, apakah setelah aku memilikimu aku akan melupakan cinta pertamaku? "Kuterima surat darimu caramu menemukan diriku" Takdir!! Aku percaya itu. Aku percaya semua yang telah disuratkan padaku. Ntah kebetulan atau tak sengaja tapi aku percaya ada rencana yang indah dibaliknya. "Tentang kenangan indah dariku saat kau menemukan cintaku" Kenangan indah? Katanya sih gitu tapi.. Sudahlah aku tak pernah menganggap pertemuan itu sebagai pertemuan indah. Kenapa? Karena sesuatu yang indah pada hakikatnya hanya sementara. Benar! Semuanya hanya sementara. Seolah-olah dia hanya singgah sejenak lalu pergi. Ibarat kau yang sedang kehujanan lalu berteduh disebuah halte lalu setelah hujan berhenti, kau pergi begitu s...