Apa kabarmu sekarang?
Ku harap kau selalu baik-baik saja. Iya, bukan?
Setelah sekian lama kita tak tegur sapa ku harap kau bahkan aku tak lupa bagaimana mengawali pembicaraan diantara kita [nantinya]. Kicauanmu di media social menjadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan. Jika saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca ini adalah tentangmu. Kujamin kau hanya akan tertawa pelan mengetahui betapa alaynya aku.
Rasanya aku tak keberatan jikalau aku kehabisan sarapan pagiku. Selama masih bisa mengetahui kabarmu, lapar sepertinya masih bisa ku tahan.
Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu satu hal. Aku tak peduli kau mau bilang aku seperti apa. Untuk kali ini biarkan aku bersikap egois padamu. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat hanya bisa ku ucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini menjadi perantara dari itu semua.
Apakah kau masih ingat pagi itu? Perkenalan singkat karna kau hanya tanya siapa namaku. Lalu kau melontarkan beberapa candaan yang membuat ku tertawa.
Sampai hari ini aku masih mengingat percis tawamu yang begitu renyah itu. Bagaimana ujung matamu yang berkerut saat kau tertawa lebar. Bagaimana bibir mu yang tak bisa menyembunyikan ginsul yang tepat berasa di sebelah kananmu. Manis sekali.
Pertemuan kita berikutnya tak kalah lucunya. Kau dan aku dipertemuakan dijalan yang sama dan kita berpapasan. Ntah itu grogi atau tak tau mau melakukan apa, kita tetap saja berjalan. Hingga beberapa langkah sampai kita tak sepapasan lagi kau hanya berteriak kecil mengatakan ‘sombong’. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil lalu pergi.
Tapi bukankah jatuh hati memang selalu berdampingan dengan kebiasaan menduga-duga? Dan lantas saja dapat menghilangkan logika dan membuat manusia suka memanipulasi kenyataan.
Bagiku, ujian terberat adalah saat kau dan aku harus duduk berhadapan. Mau tak mau harus saling berpandangan. Lagi-lagi kita melakukan hal yang sama, mencoba mengalihkan pandangan kearah lain. Nakal sekali.
Aku sering mengkhawatirkan keluhan sakit dikepalamu yang sempat beberapa kali kau menceritakannya padaku. Tapi tetap saja kau menyepelehkan kesehatanmu[Lagi].
Kata mereka harapan adalah sumber sakit yang tak terelakkan. Memang benar. Aku adalah si keras kepala yang selalu mempersiapkan itu. Memasang badan untuk menerima sakit yang kelak akan berdatangan.
Selamat menjadi sikeras kepala. Ku harap kau menyukainya [semoga saja].

Komentar
Posting Komentar