Aku pernah membenci senja, karena setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana.
Senja itu menjemput malam, dimana hanya ada gelap dan sunyi. Dan aku membenci itu.
Jika dihadapan ku disuguhi pilihan antara senja dan fajar, tentu saja aku akan memilih fajar. Kau tahu alasannya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi hari, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Pancarannya yang menghangatkan dan begitu terang pun mampu menembus ranting pohon yang saling menyilang.
Terbitnya mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala tawa anak manusia tak akan dapat disembunyikan. Indah bukan?
Dan senja? Bukannya aku benci. Aku hanya sedikit enggan dengan kehadirannya. Seakan-akan mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak kutemui cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya setitik cahaya lampu yang tak berarti. Tetap saja kegelapan pemenangnya. Menakutkan! Mengharuskan menyimpan cerita, entah cinta atau luka, atau bisa jadi kenangan. Dan membiarkan menjadi pengantar tidur atau pengisi sebuah mimpi. Hingga datang lagi yang ku tunggu, fajar yang menjemput terbitnya mentari esok hari.
Katakanlah, aku terlalu terlena..
Senja mengajarkanku, bahwa terang tak selalu menemani. Kamu adalah langitku. Langit yang selalu meneduhkanku, menemani kapanpun dan dimanapun aku berada. Langit biru yang selalu bisa menenangkan hati.
Namun hari tak selamanya siang. Aku terlalu nyaman hingga aku lupa jika malam pun akan datang. Senjalah yang menjadi penanda.
Kini senja mengajariku menghargai rasa sunyi. Sekali lagi, senja adalah akhir dari sebuah hari, membuat apa-apa yang telah terjadi menjadi sebuah rangkaian cerita yang tersusun rapi. Seperti puzzle yang harus dirangkai agar terbentuk rupa yang dapat dikenali, kisah-kisah dihari ini akan dikenang dan akan diceritakan dikemudian hari.
Ya, dari senja aku belajar menghargai rasa sunyi dan sepi. Mempertandakan bahwa, tidak selalu aku akan bersama orang yang kupilih. Tak selalu orang yang kupilih memilihku. Terkadang Tuhan tak peduli. Bukan! Tuhan bahkan lebih peduli melebihi diri kita sendiri.
Dan senja membuatku mengerti arti sebuah kata “mengikhlaskan”. Seperti saat menemukan, kehilangan juga terjadi tanpa kata “permisi”.
Dan sekarang definisi apa yang tepat untuk senja?
Mentari yang meninggalkan sang langit atau sang langit yang meningggalkannya demi sang rembulan?
Mungkin yang tepat bukanlah yang memisahkan mereka. Atau justru tidak pula semuanya? Ntahlah intinya semua hanya menjalankan titah-Nya tanpa menolak dan tanpa negosiasi.
Senja membuatku paham makna dari kata “mengikhlaskan”. Bahwa apa yang ada bersama dengan kita, tidak harus selamanya. Semua ada masanya. Tanpa kita duga, tanpa kita pinta, masa itu akan tiba dan tak ada satupun yang dapat menolakknya.
Jika kelak kamu adalah takdirku, kamu pasti akan dikembalikan padaku dengan cara yang begitu istimewa. Jika tidak, disinilah aku belajar melepaskanmu segala angan dan harapanku atas kamu.
Jangan bertanya kapan aku jatuh cinta pada senja, sebab kaulah yang paling tahu jawabannya.
***
“aku mencarimu, dan teryata kamu disini. Menunggu matahari menggellincirkan dirinya? Hm? Aneh!”
“jika kamu kesini hanya untuk memaki, lebih baik kamu pergi. Bukankah kamu memang suka meninggalkanku?”
“maaf, aku merindukanmu. Tapi, ada apa denganmu? Dan sejak kapan kamu menyukai senja? Aku tahu, sejak dulu kamu tidak menyukainya”.
Haruskah aku menjawab pertanyaan konyol itu? Kurasa tidak perlu. Untuk apa kau tanyakan padaku sejak kapan aku jatuh cinta pada senja, kalau kamulah yang paling tahu jawabannya. Ya, kamulah jawabannya. K A M U.
Tertanda,
Pecinta senja dari sudut manapun

Komentar
Posting Komentar