Langsung ke konten utama

SENJA MENGAJARIKU ARTI KEHILANGAN



Aku pernah membenci senja, karena setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana.
Senja itu menjemput malam, dimana hanya ada gelap dan sunyi. Dan aku membenci itu.

Jika dihadapan ku disuguhi pilihan antara senja dan fajar, tentu saja aku akan memilih fajar. Kau tahu alasannya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi hari, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Pancarannya yang menghangatkan dan begitu terang pun mampu menembus ranting pohon yang saling menyilang.

Terbitnya mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala tawa anak manusia tak akan dapat disembunyikan. Indah bukan?

Dan senja? Bukannya aku benci. Aku hanya sedikit enggan dengan kehadirannya. Seakan-akan mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak kutemui cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya setitik cahaya lampu yang tak berarti. Tetap saja kegelapan pemenangnya. Menakutkan! Mengharuskan menyimpan cerita, entah cinta atau luka, atau bisa jadi kenangan. Dan membiarkan menjadi pengantar tidur atau pengisi sebuah mimpi. Hingga datang lagi yang ku tunggu, fajar yang menjemput terbitnya mentari esok hari.

Katakanlah, aku terlalu terlena..
Senja mengajarkanku, bahwa terang tak selalu menemani. Kamu adalah langitku. Langit yang selalu meneduhkanku, menemani kapanpun dan dimanapun aku berada. Langit biru yang selalu bisa menenangkan hati.

Namun hari tak selamanya siang. Aku terlalu nyaman hingga aku lupa jika malam pun akan datang. Senjalah yang menjadi penanda.

Kini senja mengajariku menghargai rasa sunyi. Sekali lagi, senja adalah akhir dari sebuah hari, membuat apa-apa yang telah terjadi menjadi sebuah rangkaian cerita yang tersusun rapi. Seperti puzzle yang harus dirangkai agar terbentuk rupa yang dapat dikenali, kisah-kisah dihari ini akan dikenang dan akan diceritakan dikemudian hari.

Ya, dari senja aku belajar menghargai rasa sunyi dan sepi. Mempertandakan bahwa, tidak selalu aku akan bersama orang yang kupilih. Tak selalu orang yang kupilih memilihku. Terkadang Tuhan tak peduli. Bukan! Tuhan bahkan lebih peduli melebihi diri kita sendiri.

Dan senja membuatku mengerti arti sebuah kata “mengikhlaskan”. Seperti saat menemukan, kehilangan juga terjadi tanpa kata “permisi”.

Dan sekarang definisi apa yang tepat untuk senja?
Mentari yang meninggalkan sang langit atau sang langit yang meningggalkannya demi sang rembulan?
Mungkin yang tepat bukanlah yang memisahkan mereka. Atau justru tidak pula semuanya? Ntahlah intinya semua hanya menjalankan titah-Nya tanpa menolak dan tanpa negosiasi.

Senja membuatku paham makna dari kata “mengikhlaskan”. Bahwa apa yang ada bersama dengan kita, tidak harus selamanya. Semua ada masanya. Tanpa kita duga, tanpa kita pinta, masa itu akan tiba dan tak ada satupun yang dapat menolakknya.

Jika kelak kamu adalah takdirku, kamu pasti akan dikembalikan padaku dengan cara yang begitu istimewa. Jika tidak, disinilah aku belajar melepaskanmu segala angan dan harapanku atas kamu.

Jangan bertanya kapan aku jatuh cinta pada senja, sebab kaulah yang paling tahu jawabannya.

***
“aku mencarimu, dan teryata kamu disini. Menunggu matahari menggellincirkan dirinya? Hm? Aneh!”
“jika kamu kesini hanya untuk memaki, lebih baik kamu pergi. Bukankah kamu memang suka meninggalkanku?”
“maaf, aku merindukanmu. Tapi, ada apa denganmu? Dan sejak kapan kamu menyukai senja? Aku tahu, sejak dulu kamu tidak menyukainya”.

Haruskah aku menjawab pertanyaan konyol itu? Kurasa tidak perlu. Untuk apa kau tanyakan padaku sejak kapan aku jatuh cinta pada senja, kalau kamulah yang paling tahu jawabannya. Ya, kamulah jawabannya. K A M U.


Tertanda,

Pecinta senja dari sudut manapun


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...