"Kenapa Hujan?" , katamu, bingung. Bingung karena hujan selalu menjadi inspirasi terbesarku. Dan juga senja. Hujan dan Senja. Dua hal yang bertolak belakang. Yang satu menawarkan romantisme dingin dan sendu, sedangkan yang satu lagi melankolisme hangat dan tenang. Meski keduanya bisa menjadi terjemahan dari rindu, pilu, benci, dan cinta. Oh!!! Apalagi kenangan! Aku sebenarnya tak lebih bingung dari kamu. Kenapa? Sini aku ceritakan. -- Tentang Hujan . Bulirnya yang basahi bumi, seolah mengajarkan kita untuk terus tabah. Tabah dalam memberi karena memberi bisa hilang bagai tak berarti. Tabah dalam memberi karena dari memberi kita belajar keikhlasan. Kau pikir tanah tahu seberapa banyak tandus yang hilang saat hujan turun? Atau cacing. Apa kamu mau memberi minum cacing secara cuma cuma seperti hujan? Eh, itu tumbuhan di belantara hutan. Ada gitu yang mau nyiramin satu-satu pohonnya? Enggak kan? Apa kamu bisa menjadi hujan? Tidak! Kamu tidak bisa menjad...