Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Lantas Kau, Senja atau Hujan?

"Kenapa Hujan?" , katamu, bingung. Bingung karena hujan selalu menjadi inspirasi terbesarku. Dan juga senja. Hujan dan Senja. Dua hal yang bertolak belakang. Yang satu menawarkan romantisme dingin dan sendu, sedangkan yang satu lagi melankolisme hangat dan tenang. Meski keduanya bisa menjadi terjemahan dari rindu, pilu, benci, dan cinta. Oh!!! Apalagi kenangan! Aku sebenarnya tak lebih bingung dari kamu. Kenapa? Sini aku ceritakan. -- Tentang Hujan . Bulirnya yang basahi bumi, seolah mengajarkan kita untuk terus tabah. Tabah dalam memberi karena memberi bisa hilang bagai tak berarti. Tabah dalam memberi karena dari memberi kita belajar keikhlasan. Kau pikir tanah tahu seberapa banyak tandus yang hilang saat hujan turun? Atau cacing. Apa kamu mau memberi minum cacing secara cuma cuma seperti hujan? Eh, itu tumbuhan di belantara hutan. Ada gitu yang mau nyiramin satu-satu pohonnya? Enggak kan? Apa kamu bisa menjadi hujan? Tidak! Kamu tidak bisa menjad...

SENJA MENGAJARIKU ARTI KEHILANGAN

Aku pernah membenci senja, karena setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana. Senja itu menjemput malam, dimana hanya ada gelap dan sunyi. Dan aku membenci itu. Jika dihadapan ku disuguhi pilihan antara senja dan fajar, tentu saja aku akan memilih fajar. Kau tahu alasannya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi hari, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Pancarannya yang menghangatkan dan begitu terang pun mampu menembus ranting pohon yang saling menyilang. Terbitnya mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala tawa anak manusia tak akan dapat disembunyikan. Indah bukan? Dan senja? Bukannya aku benci. Aku hanya sedikit enggan dengan kehadirannya. Seakan-akan mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak kutemui cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya setitik cahaya lampu yang tak berarti. Tetap saja ...

Aku Malu Dikatakan Aktivis Dakwah

Dakwah kini semakin kehilangan jati diri generasinya. Atau hanya sekedar menciptakan generasi untuk kepentingan tertentu? Tentu bukan hanya untuk pemilu, atau semangat kampanye di satu kubu, pasti lebih dari itu. Atau sekedar menjadi simpatisan politik lalu disebut kader tangguh? Sementara mutaba'ah yaumiyah kusut semakin lusuh. Hijab luntur tak lagi kaku seperti dulu, maklum mereka baru ngaji seminggu, kata sesepuh. Ikhlas berdakwah kini hilang dalam qolbu, kalau bukan karena nasi bungkus gak laju, atau karena ada yang menunggu di batas waktu. Syuro' kalau gak "ngakak bareng" gak seru, si ikhwan becanda merayu, si akhwat pun tersipu malu. Eh tunggu dulu, kok dengan saudaranya saling menggerutu? katanya satu tubuh, tapi ukhuwah bak kapal runtuh. Terkadang tidak habis fikir, mengapa kita bisa terjebak dalam lingkaran tarbiyah ini. Tidak sedikitpun ingin mundur atau keluar dalam barisan, walau terkadang kekecewaan datang, kefuturan melanda, atau bahkan seng...

Aku Terjebak (lagi)

Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam jernihnya selalu menatapmu bersamanya. Selalu ada yang tak diceritakan, langit kepada hujan. Entah pagi bersambut kabut, Atau mendung yang bikin murung. Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing. Serupa gelombang lautan, cinta datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kau kejar. ~ Cinta bisa memberikan cahaya Pada mata yang sekalipun buta. Cinta juga bisa jadi petaka Meski pada orang yang di surga. Ah, biarlah … Cinta tak butuh kata-kata. Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu. ~ Gemelisik daun kering menyadarkanku bahwa semestamu bukanlah aku. Kerontang daun terseret angin melebur menjadi luka hatiku. Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percay...