Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

My HIJAB, My STYLE

Berhijab dengan sempurna seperti tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah suatu kewajiban setiap muslimah, sama seperti wajibnya shalat, puasa, zakat. Berhijab adalah aktivitas ibadah mulia yang dilakukan oleh setiap muslimah, hijab ini tidak hanya memuliakan dirinya namun juga akan banyak orang seperti ayah-ibunya, kakak-adiknya, suaminya, anak-anaknya serta orang-orang yang disekitarnya (Agus Wibowo, 2017: 145) “Mbak gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus. “Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah. Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai. Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek da...

UNTUK APA?

PENGECUT!! Iya kau memang benar.. Huruf saja membutuhkan jeda agar bisa terbaca Lalu, kenapa kau masih bertahan dan memaksa hati terluka lebih parah? Berhentilah sejenak atau jika kau bisa tak perlu lagi kau teruskan Untuk apa terus berjuang dan pada akhirnya hanya berbuah sia-sia? Setiap diri membutuhkan jeda.. Semua memiliki titik jenuh.. Dan semua pasti akan lelah pada akhirnya Bukankah begitu? Lalu, untuk apa kau terus paksakan hatimu untuk bertahan? Bukankah itu akan sia-sia? Semua butuh jeda.. Bahkan jika semua tulisanku tidak memiliki rangkaian jeda pasti kau sulit membacanya, bukan? Kau lihat sebuah koma pada susunan kalimat yang ku buat? Ku yakin kau pasti memahami apa maksudnya, bukan? Dan kau lihat titik disetiap paragraf? Maksud dari titik itu adalah agar kau tau dimana seharusnya berhenti Bukankah yang memiliki awal pasti akan menemukan akhir? Begitu pula dengan kisah ini.. Jika bukan tersebab sesuatu yang pasti, Tentu kau akan berakhir juga...

Bohong Jika Ada yang Mampu Menggantikanmu

Tulisan ini adalah tulisan yang kesekiannya aku tulis untuk orang hebat yang tak pernah tergantikan posisinya Iya, tulisan ini untuk ayah Ayah.. Aku tak tau kata yang pantas ku berikan untuk mu itu seperti apa Aku tak mampu membalas kebaikan ayah dari sebelum aku ada di dunia hingga aku sebesar ini Ayah.. Sekarang kau tak seperti dulu Sekarang kau tak sekuat dulu Rambutmu pun kini tak sehitam dulu Tapi ayah tenang saja, meskipun begitu kau tetap gagah dihadapanku Ayah.. Aku suka sedih jika mengingat ayah Tapi ayah selalu kuat didepan ku, tak pernah sekalipun aku dengar ayah mengeluh Tapi, seringkali anakmu ini suka sekali mengeluh Jika dibandingkan dengan ayah lelahku ini tak ada apanya ketimbang lelahmu Kau yang dari pagi bekerja tanpa kenal lelah, tapi seakan-akan lelahku melebihi ayah Ayah.. Maafkan aku.. Maafkan keegoisanku selama ini.. Setiap pulang sekolah ayah selalu bertanya “nak, bagaimana disekolah mu tadi?” dengan cueknya aku bilang “sudahlah yah...

Kehadiranmu Tak Perlu Ku Sesali

Apa kabarmu sekarang? Ku harap kau selalu baik-baik saja. Iya, bukan? Setelah sekian lama kita tak tegur sapa ku harap kau bahkan aku tak lupa bagaimana mengawali pembicaraan diantara kita [nantinya]. Kicauanmu di media social menjadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan. Jika saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca ini adalah tentangmu. Kujamin kau hanya akan tertawa pelan mengetahui betapa alaynya aku. Rasanya aku tak keberatan jikalau aku kehabisan sarapan pagiku. Selama masih bisa mengetahui kabarmu, lapar sepertinya masih bisa ku tahan. Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu satu hal. Aku tak peduli kau mau bilang aku seperti apa. Untuk kali ini biarkan aku bersikap egois padamu. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat hanya bisa ku ucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini menjadi perantara dari itu semua. Apakah kau masih ingat pagi itu? Perkenalan singkat karna kau hanya tanya siapa namaku. Lal...

Sebuah Surat Rindu Untukmu

Ayah.. Ada sebuah surat dari anak perempuanmu. Sebuah surat rindu yang selama ini aku rasakan.  Ayah pasti kau lihat aku sudah tumbuh besar, ayah. Umurku sudah 19 tahun, ayah. Aku sudah bisa mencari uang sekarang  Ayah mungkin suatu saat umurku panjang,umurku semakin bertambah dan aku bakal menjalin sebuah pernikahan Aku sedih, yah.. Ketika aku menikah nanti ayah tak ada disampingku Menjadi wali ketika aku menikah nanti Ayah.. Jika aku hitung-hitung sudah cukup lama aku tak menangis dipangkuanmu Sudah terlalu lama kau tak mengusap air mataku ketika aku menangis Dan sudah terlalu lama pula kau tak melakukan haal konyol ketika lutut ku berdarah Saat itu diusiaku 4 tahun aku terjatuh dari sepeda roda tiga ku dan lututku berdarah Kau langsung benghampiriku dengan singap kau meniup lututku dan mengatakan “ah tak apa, putri ayah yang satu inikan kuat”  saat itu aku mengangis sembari tersenyum kecil ketika mendengar perkataan ayah. Setelah itu ayah langsung m...

Assalamu'alaikum Senja

Senja.. Taukah kau caraku mencintaimu bukanlah dengan mengucapkan “I Love You” Kemudian pulang dengan mengucapkan “I Miss You” Bukan.. Bukan seperti itu. Caraku mencintaimu adalah bagaimana aku bisa menjaga dirimu dan juga diriku. Terutama menjaga cintaku kepada Rabb. Memang tak seperti wanita yang lain, yang dengan gampangnya menerima bunga. Iyaa, aku tak seperti itu. Namun perlu kau tau, menurutku setumpuk doa lebih jujur untuk menyatakan cinta. Bukan sekedar datang kemudian menggenggam, padahal belum halal Senja.. Memilih untuk menghilang Memilih untuk tak mengabarkan Jauh lebih menantang ketimbang datang kemudian meninggalkan Caraku mencintaimu tak perlu kuberi tau Cukup rindu menjadi temanku dikala malam menjadi saksi bisu Benar.. Malam menjadi saksi bisu bagaimana sosok yang bersembunyi dalam sepi Hanya untuk meminta agar kau dapat berada disisiku Tidak.. Mencintaimu dengan cara seperti itu tidak pernah membuatku bersedih Karna caraku berasal dari dalam h...

Masih Tentangmu

Apa kabar? Sudah lama tak jumpa. Jangankan jumpa, saling sapapun tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu. Dan kamu?? Entahlah… Masih peduli dengan hidupku atau tidak? mungkin kamu akan bertanya kenapa aku menulis ini semua? Jika kamu mengira aku ingin mencuri perhatianmu, tentu saja tidak.. Untuk apa?? Jika kamu mengira aku ingin mendramatisir keadaan itupun sama sekali tidak.. Aku menulis semua ini hanya karna aku rindu. Apakah kamu tak pernah merasakannya? Ku harap kamu sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kamu mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis.. Setidaknya kamu mengingat susahnya usaha dan mudahnya menyerah. Cinta kita hanyalah cinta monyet, cinta yang tumbuh diatap sekolah. Cinta yang terus tumbuh, karena pipi merona saat aku mendengar suaramu. Manis. Aku bisa merasakannya. Walau aku hanya bisa mengingatnya. Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu, kita terlihat canggung. Tapi kita tersenyum sesudah...