Menemukanmu adalah sebuah defenisi bahagia yang sangat sederhana. Menemukanmu pun ibarat peristiwa Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya, ia berlari dari bukit safa ke bukit marwa hingga tujuh kali. Tapi ternyata, apa yang ia cari ada didekatnya. Menemukanmu adalah tentang kepercayaan mengenai kepastian janji Tuhan.
Aku pernah cemburu pada dinding media sosial yang kau punya. Terlebih aku cemburu pada kertas yang lebih tau mengenai perasaanmu. Kau lebih mempercayainya dibanding aku. Aku pernah cemburu pada kejadian-kejadian dimana aku tak ada disana. Aku pernah cemburu pada fotomu yang dengan mudahnya tertawa lepas, [sekali lagi] tanpa aku. Lebih-labih cemburuku bertambah dengan tulisan-tulisan yang mengiringi fotomu, ntah kau tunjukkan kesiapa.
Aku dan kamu adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam.
Aku dan kamu adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang ntah begitu saja.
Dalam rentang waktu menahun yang menahan kita bahkan mendekap kita sangat erat. Rindu bukan lagi pertanyaan yang harus dijawab. Namun, jarak menjadi sebuah penghalang nyata bagi kita. Menciptakan molekul-molekul cemburu yang siap siaga berubah menjadi perusak dari sebuah keyakinan.
Aku dan kamu seharusnya tak perlu khawatir. Bukankah kita sama-sama tau kemana hati harus kita labuhkan?

Komentar
Posting Komentar