Langsung ke konten utama

Postingan

Reason I'm Writing

Postingan terbaru

Esok Aku akan Memulai Hati yang Baru [Percayalah]

Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabar darimu, Terkadang terbesit rasa ingin kembali tetapi aku sadar jika “Angin yang berhembus ditempat yang sama akan berbeda arahnya” . Jika harus mengingat kembali pertemuan kita sangat sederhana, berawal saat kau bercerita disalah satu chat sosmed tentang hubunganmu dengan dia yang sempat goyah dan akhirnya berakhir, aku yang mungkin saat itu hanya sekedar menguatkanmu. Hari demi hari berlalu, kita semakin nyaman dengan apa yang kita bahas dan akhirnya rasa ingin memiliki itu tumbuh, masih sangat jelas teringat saat aku mengungkapkan isi hati yang sebenarnya dan engkau membalasnya dengan senyum manis dan mengatakan ‘iya’ Karaktermu yang sedikit cuek dan tidak mau tahu kubalas dengan perhatian yang lebih, Masih sangat teringat jelas dibenakku saat engkau malas mengerjakan tugas kuliahmu,aku berusaha menyemangati dan memberi target tugasmu harus selesai saat ini karena deadline tugasmu besok. Saat aku bertanya “Hey,” Tuga...

Senja yang Hadir Tidak Akan Sama

Sebab baginya, senja yang hadir tidak pernah sama.. Matahari senja baru saja tampak di tepi Barat langit kota ini, seorang lelaki dengan ransel kecil yang berisi beberapa lembar baju dan sebelah kanan tangannya memegang sebuah buku dan sebuah bingkisan hadiah. Ku rasa itu dari orang spesialnya, hehehe maklum jiwa menduga-duga ku sesukanya saja hadir. Tampak begitu berat dan tas yang dibawanyapun tampak mengembang dipunggungnya seolah-olah juga berisi beban hidup. Ia memulai perjalanannya dengan sederetan rumah-rumah panggung yang ada dikampung sekitaran tempat ini. Mungkin saja senja baginya adalah waktu untuk  memberi ruang bagi jiwa dan raga untuk siap pulang dan menghitung setiap lelahnya. Senja yang indah selalu menghasilkan semacam perasaan tiba-tiba merindukan sesuatu atau sekedar mengingat sesuatu yang pernah ada. Tetiba saja bermunculan sosok-sosok dalam novel yang pernah ia bacakan. Seperti Mencari Tepi Langit, Kisah Langit Merah, cerpen Sepotong Senja Untuk Paca...

Aku Pergi Bukan Untuk Bersembunyi

“Terkadang, selamat tinggal berarti untuk selamanya dan perpisahan adalah akhir dari sebuah cerita. Dia yang memilih pergi mungkin telah berbahagia. Tapi yang PASTI BISA menyusulnya kemudian.” Aku adalah perempuan yang tidak menyukai segala bentuk perpisahan. Perpisahan saat lulus dari sekolah, perpisahan dengan keluarga di bandara, perpisahan dengan teman-teman karena liburan kuliah, hingga perpisahan yang tidak menyertakan kata “selamat tinggal”. Perpisahan tanpa sebuah ucapan adalah perpisahan yang paling menyedihkan. Pada dasarnya, semua manusia memiliki otak dan ingatan yang otomatis menyimpan semua hal yang telah terjadi. Apakah iya, benar-benar tidak ada satu pun kenangan baik antara dua orang, hingga salah satu pihak tidak pantas mendapatkan ucapan selamat tinggal? Bagi ku, lebih baik orang tersebut mengucapkan “kita putus ya!” atau "selamat tinggal, jangan pernah temui saya lagi!" yang menandakan suatu hubungan betul-betul berakhir. Tegas. Dengan titik. Buk...

Izinkan Aku Pergi

Bersamamu aku mengenal banyak hal. Meskipun pahit namun, tak bisa ku pungkiri kita pernah mengukir tawa dalam sepenggal cerita. Bersamamu banyak kisah yang kau perbuat, tanggisku seolah pertanda bahwa kau telah berhasil mempermainkanku. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menghapus semua tentangmu. Maaf. Ku putuskan tuk pergi malam ini juga. Dengan harap kau mampu menyadari arti hadirku selama ini. Semesta tak perlu tau seberat apa aku melepasmu. Seburuk apa perasaanku dengan perpisahan ini. Aku tak tau seberapa lama aku menahan ini, namun sekokoh karang aku tetap pada pendirianku. Harapan demi harapan selalu ku untai hanya untuk sebuah keyakinan bahwa semesta merestui cerita kita. Tapi, kembali kau hempas layaknya badai yang memporak-porandakan harapan yang perlahan ku susun. Ya, memang benar sebuah perpisahan tak pernah menyimpulkan sebuah senyuman. Meski cinta ini tak berwujud, namun aku tau kau merasakannya seperti udara yang kau hirup dan perlahan kau hembuskan. Seperti ai...

Perpisahan Hati

:Aku Akan Pergi Jika Kau yang Memintanya “Fia, sekarang kita belajar, yuk!”     “Nggak mau,” aku berangsur menjauhinya, membuatnya bersingkut mendekatiku. “Fia maunya main. Fia gak mau belajar!” yaudah kalo kamu gak mau belajar. Gak papa, aku belajar sendiri aja ya Fia. Aku tak tau yang kulakukan ini benar atau tidak, tapi yang pasti aku ingin menenangkan hatiku terlebih dahulu. Ya, mungkin salah satu caranya dengan menjauh dari Rara. Rara adalah sahabat seperjuanganku. Kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan Rara pun teman sebangku ku di kelas. Setiap kejadian apapun selalu kuceritakan padanya. Hingga ketika itu aku bercerita mengenai sosok laki-laki yang mampu membuatku terkagum-kagum. Awalnya dia sangat antusias mendengarkannya, bahkan dia sangat setuju jika aku mengenalnya lebih jauh. Ketika berada di kelas aku sangat antusias dan bersemangat bercerita pada Rara.  “ Ra, tadi malam dia chat aku dan menanyai kabarku loh”.  “Wah benar kah?”...

Tentang Kenangan yang Kau Buat

Bila nanti saatnya tiba, biarkan kamu yang berjalan jauh sedangkan aku tetap diam disini, berharap kamu berhenti dan menengok kearahku [sesaat].. Maka aku akan memberikan senyuman terakhirku, agar kamu tau bahwa aku akan menunggumu sampai benar-benar hilang dari pandanganku. Ku mohon tinggalkan sedikit kenangan buatku agar aku punya cerita untuk bintang, bahwa aku pernah di peluk oleh luka.. Bahwa aku pernah menggenggamnya..