Langsung ke konten utama

Masih Tentangmu



Apa kabar? Sudah lama tak jumpa. Jangankan jumpa, saling sapapun tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu. Dan kamu?? Entahlah…
Masih peduli dengan hidupku atau tidak?
mungkin kamu akan bertanya kenapa aku menulis ini semua?
Jika kamu mengira aku ingin mencuri perhatianmu, tentu saja tidak..
Untuk apa??
Jika kamu mengira aku ingin mendramatisir keadaan itupun sama sekali tidak..

Aku menulis semua ini hanya karna aku rindu. Apakah kamu tak pernah merasakannya? Ku harap kamu sempat merindukanku walau hanya semalam.
Setidaknya kamu mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis..
Setidaknya kamu mengingat susahnya usaha dan mudahnya menyerah.
Cinta kita hanyalah cinta monyet, cinta yang tumbuh diatap sekolah.
Cinta yang terus tumbuh, karena pipi merona saat aku mendengar suaramu. Manis. Aku bisa merasakannya. Walau aku hanya bisa mengingatnya.

Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu, kita terlihat canggung. Tapi kita tersenyum sesudahnya.

Aku masih ingat betapa indahnya hujan itu. Kamu terus melajukan motor dengan cepat, karna kamu tidak mau aku teralu lama terkena hujan. Aku tidak tau seberapa banyak aku tersenyum saat itu.

Aku tidak perduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan kenangan itu dalam memoriku atau tidak. Yang aku tau, aku cukup merasakannya. Cukup aku. Kamu juga bukan kekasih pertama atau kedua.

Tapi percayalah kamu membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya.
Kamu adalah orang pertama yang membuat aku merasa beharga dan merasa dihargai.
Kamu membuat aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang patut diperjuangkan.
Bukan orang yang selalu menunggu..
Menanti..
Bahkan meminta..

Untuk kamu, yang sempat hadir, maafkan aku membuatmu muak dengan sikapku yang kekanak-kanakan, yang sering mengeluh, yang sering drama dengan segala masalah. Kamu selalu mengingatkanku. Dan lagi, aku terlambat menyadarinya.

Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau , cinta itu menyakitkan saat kamu pergi. Itu saja. Bodoh? Iya, sangat bodoh. Kadang aku suka tertawa jika mengingatnya. Perjalanan kita teramat sangat lucu ternyata.

Aku ingat kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun. Karna untuk masalah perasaan  semua orang ingin terlihat benar. Sudahlah cukup aku sajalah yang mengerti.

Perjalaanan terkadang memang membuat aku terbang lalu terjatuh. Dan terimakasih kamu telah menjadi perjalananku. Hidup kadang terasa manis, seperti gulali yang sering dijual di pasar malam. Tapi jugaa terkadang pahit, seperti saat aku tak sengaja menelan ampas kopi.
Dan kamu telah menjadi keduanya diwaktu yang bersamaan.
Sekali lagi terimakasih, karna telah hadir lalu pergi.
Dan sempat memulai dan mengakhiri.

Untuk kamu, yang sempat hadir. Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu. Tapi setelah aku menulis semua ini, aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum. Percayalah. Aku bahagia.

Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup. Tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal itu lebih baik.
Mampu? Hehehe aku hanya bercanda.

Aku tidak kekanak-kanakan lagi. Aku hanya berharap aku dan kamu baik-baik saja. Kita bahagia bersama dijalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah satu saat kita akan bertemu. Dengan senyuman, hingga tak ada lagi kecanggungan lalu berbincang.
Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu dan begitu juga sebaliknya. Iya, seseorang yang akan aku kenalkan adalah seseorang yang membuat aku tersenyum setelah kamu membuat ku menangis.

Dan kamu, mengenalkanku pada seseorang yang kamu ajak tersenyum ketika aku sedang menangis.

Untuk kamu yang sempat hadir
Aku merasa cukup
Dan aku PERGI




Komentar