Sebab baginya, senja yang hadir tidak pernah sama.. Matahari senja baru saja tampak di tepi Barat langit kota ini, seorang lelaki dengan ransel kecil yang berisi beberapa lembar baju dan sebelah kanan tangannya memegang sebuah buku dan sebuah bingkisan hadiah. Ku rasa itu dari orang spesialnya, hehehe maklum jiwa menduga-duga ku sesukanya saja hadir. Tampak begitu berat dan tas yang dibawanyapun tampak mengembang dipunggungnya seolah-olah juga berisi beban hidup. Ia memulai perjalanannya dengan sederetan rumah-rumah panggung yang ada dikampung sekitaran tempat ini. Mungkin saja senja baginya adalah waktu untuk memberi ruang bagi jiwa dan raga untuk siap pulang dan menghitung setiap lelahnya. Senja yang indah selalu menghasilkan semacam perasaan tiba-tiba merindukan sesuatu atau sekedar mengingat sesuatu yang pernah ada. Tetiba saja bermunculan sosok-sosok dalam novel yang pernah ia bacakan. Seperti Mencari Tepi Langit, Kisah Langit Merah, cerpen Sepotong Senja Untuk Paca...