Dakwah kini semakin kehilangan jati diri generasinya. Atau hanya sekedar menciptakan generasi untuk kepentingan tertentu? Tentu bukan hanya untuk pemilu, atau semangat kampanye di satu kubu, pasti lebih dari itu. Atau sekedar menjadi simpatisan politik lalu disebut kader tangguh? Sementara mutaba'ah yaumiyah kusut semakin lusuh.
Hijab luntur tak lagi kaku seperti dulu, maklum mereka baru ngaji seminggu, kata sesepuh. Ikhlas berdakwah kini hilang dalam qolbu, kalau bukan karena nasi bungkus gak laju, atau karena ada yang menunggu di batas waktu. Syuro' kalau gak "ngakak bareng" gak seru, si ikhwan becanda merayu, si akhwat pun tersipu malu.
Eh tunggu dulu, kok dengan saudaranya saling menggerutu? katanya satu tubuh, tapi ukhuwah bak kapal runtuh.
Terkadang tidak habis fikir, mengapa kita bisa terjebak dalam lingkaran tarbiyah ini.
Tidak sedikitpun ingin mundur atau keluar dalam barisan, walau terkadang kekecewaan datang, kefuturan melanda, atau bahkan sengketa pernah hiasi liku perjalanan ini.
Meski pun itu, ada yang menahan dan berbisik, mencoba menerawang jauh, kemarin itu, dulu itu, waktu indah itu kita menemukan pribadi - pribadi mulia, mengajak dengan tutur kata indah, sedikitpun tidak pernah menggurui, hingga kita dan mereka tersentuh mencoba untuk ikut menapaki jalan yang kadang indah namun tak jarang berliku ini.
Mungkin pribadi mulia itu lebih dari ini, lebih dari kecewa yang kita rasakan. Tetapi mereka sadar, hasil akhir bukanlah di dunia, tetapi balasannya kelak di akhirat.
Sempat terniatkan hanya ingin memperoleh sertifikat tertanda tangan orang - orang besar, lalu ikut trainingnya, menghadiri dauroh - dauroh itu, ternyata lebih dari itu jika niat hati ikhlas karena Allah, bukan lagi orang - orang besar namun langsung dari Allah sertifikat itu, mungkin di hiasi dengan tinta emas, kilau indahnya menyejukkan mata, terpampang di dinding rumah - rumah kita di surga sana.
Menangis mungkin sudah menjadi suatu yang biasa, kadang tak sepaham, terkadang merasa pendapat kita tidak di anggap, kadang kita merasa sendiri, mungkin karena kita lebih mengedepankan ego, sifat ingin menang sendiri ternyata itu melukai saudara kita, namun kita menganggap justru kitalah yang dikecewakan, kita merasa lebih faham dari mereka, wahai hati, lalu alasan apa yang menyebabkan engkau kecewa?
Dalam sendu suasana lingkaran tarbiyah, kita selalu diajarkan keteladanan.
Objek dakwah yang bermacam warna memaksa kita harus mampu memposisikan diri. Terkadang sulit, ketika prinsip tergoyahkan.
Sungguh, apakah pantas diri kita disebut sebagai Aktivis Dakwah? sementara maksimal dalam ibadah sungguh sangat jauh, sementara ilmu satu ayatpun sulit terkuasai, lalu bagaimana kita menyampaikan hanya satu ayat saja? ah, tak sanggup rasanya amanah itu terembankan, terlebih sebutan Da'i yang disematkan.
ingatlah, kita ajarkan tentang makna ukhuwah, tentang cinta dari langit lalu menebarkannya ke bumi, tentang menundukkan pandangan, tentang kisah heroik Rasulullah dan para sahabatnya. Namun sungguh, kita jauh dari apa yang kita ajarkan, kita masih setengah memilih antara ikhlas di jalan Allah, atau di balas oleh mereka melalui proyek yang di janjikan.
Cobalah hati, apakah benar niatmu karena Allah dan RasulNya? atau bahkan sekelumit niat karena Allah lalu kini dikotori oleh keinginan - keinginan nafsu? haus akan pujian, atau mengharap sebungkus nasi atau seamplop rupiah. Sungguh, kita ini banyak, kauntitas kita baik, tetapi bagaimana kualitas? Innalillah, semoga kita bukanlah umat yang diperebutkan oleh orang - orang kafir seperti makanan di atas nampan, kita seperti buih di atas lautan, terombang ambing ombak sulit menyatu, tinggal Allah memberikan kita sebuah penyakit Al - Wahn, terlalu cinta kepada dunia hingga takut akan kematian.
Maka saat engkau merasa disakiti, mungkin kita lebih membuat mereka sakit jika saja mereka faham. Kita ajarkan kebaikan, tatkala mereka tersentuh, justru kita lalai dalam kebaikan.
Kita ajarkan keteladanan, ketika mereka mulai meneladani kita, justru semakin hari hati kita kian membelot.
Kita ajarkan indahnya persudaran karena iman, tetapi iman kita tak mampu bicara, tak mampu dikedepankan saat masalah, saat sengketa melanda.
ingatkah ketika Bilal dan Abdurrahman bin Auf pernah bertengkar, Ali bin Abi Thalib dan Thalhah pernah berseberangan pasukan dalam perang unta, dan bahkan seorang Umar pernah bertentangan dengan Khalid bin Walid. Lalu apa yang mereka kedepankan ketika sedang berselisih paham ? Ajaran agama yang mulia ini mengajarkan bahwa dalam kondisi apapun IMAN lah yang harus dikedepankan. Sekali lagi IMAN. bukan yang lain. Iman yang melahirkan prasangka baik. Maka menangislah thalhah, ketika ia harus berhadapan dengan ali. Teringat saat mereka berdua beriringan mendampingi Rasulullah. Lalu mengapa mereka sekarang harus berhadapan dalam dua pasukan yang berbeda?. Maka legowolah Khalid ketika Umar mencopotnya dari jabatan panglima, dan mengedepankan baik sangka kepadanya. “Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Tuhannya umar”. Maka menangislah Umar, ketika ia tahu bahwa Khalid sudah meninggal dan berkata “tidakkah ada perempuan arab yang bisa melahirkan khalid bin walid”. Ya, itulah bahasa iman.
Kita ajarkan tentang menundukkan pandangan, terlebih sesama aktivis dakwah. ketika mereka mulai tertarik mencoba mempraktekkannya, lalu apa yang kita lakukan? sudahlah, sedih bila diteruskan. Kita ajarkan arti keikhlasan, persaudaraan, senyuman, indahnya berkasih sayang, nikmatnya ikhlas di jalan Allah, tetapi semua hanya sebatas lisan yang berucap, langkah semakin rapuh, hati hanya dihinggapi rasa dengki terhadap saudaranya.
Bahkan hanya sibuk dalam agenda menitan, terus dan terus hingga kita abai melihat saudara kita yang sangat membutuhkan kita disampingnya, kita berdalih "ini agenda besar, akan banyak yang tersadarkan". jika saja kita ingat wahai hati, Rasulullah pernah di tegur karena sempat bermasam muka dengan seorang yang ingin sekali berada didekatnya tatkalah Rasulullah tengah sibuk berdakwah terhadap para pembesar kafir. Lalu siapa yang tersakiti? kita atau mereka? Lalu mengapa kita mudah menganggap disakiti oleh objek dakwah, sementara maksimal dalam berdakwah saja masih sangat jauh.
Tidak! kita lah yang menyakiti mereka, dan kita pula yang menyakiti diri kita sendiri.
Wallahu'alam

Komentar
Posting Komentar