Berhijab dengan sempurna seperti tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah suatu kewajiban setiap muslimah, sama seperti wajibnya shalat, puasa, zakat. Berhijab adalah aktivitas ibadah mulia yang dilakukan oleh setiap muslimah, hijab ini tidak hanya memuliakan dirinya namun juga akan banyak orang seperti ayah-ibunya, kakak-adiknya, suaminya, anak-anaknya serta orang-orang yang disekitarnya (Agus Wibowo, 2017: 145)
“Mbak gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus.
“Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah.
Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai.
Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek dan transparan. Bajunyapun ketat. Ia juga memakai celana yang semuanya menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Yup, inilah stylelist muslimah zaman sekarang. Jilbab gaul dan trendy, katanya.
Dengan ramah, aku menjawab pertanyaannya, “Iya panas juga sih. Tapi tidak masalah kalau sudah terbiasa,” ujarku tersenyum. “Lagipula, daripada panasnya Neraka lebih baik panas di sini lho,” jawabku santun dan tersenyum.
Sejenak ia terdiam dalam tatapanku. Hingga akhirnya ia juga mengangguk sambil tersenyum. Kujabat tangannya, kini aku hendak pamit. Foto-kopi tugas makalah sudah beres. Ia kembali tersenyum.
Entah apa di pikirannya saat ini. Jelasnya, aku merasa plong bisa menjawab satu di antara puluhan pertanyaan yang biasa menghampiriku.
Dari kejauhan suara merdu azan Dzuhur sudah berkumandang memanggil orang-orang beriman menuju kemenangan. Saya bergegas ke masjid.
Budaya Arab?
Boleh jadi ilustrasi dialog di atas pernah dialami beberapa orang Muslimah. Kisah yang kerap menghampiri para Muslimah yang mencoba istiqamah berhijab sesuai tuntunan syariat. Sejumlah gelar dan stigma negatif seolah menjadi sarapan wajib mereka. Mulai dari julukan ninja, teroris hingga mendapat sorakan “Aisyah Ayat-Ayat Cinta”.
Komentar sinis juga tak henti menerpa, bahwa baju dan jilbab lebar tersebut cocoknya di negeri Timur Tengah sebagai budaya Arab, bukan dipakai di Indonesia.
Tak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orangtua dan keluarga masih menentang niat para Muslimah yang ingin menyempurnakan hijabnya. Alasan susah dapat jodoh, sempit peluang kerja, hingga kepada anggapan susah bergaul di lingkungan keluarga.
Di kalangan sebaya pun demikian. Para Muslimah tersebut siap-siap dijuluki kayak emak-emak, rempong, sok suci, sok alim, belum pantas , dan sebagainya.
Please Don’t Bully Me
Dalam proses perjalanan keimanan seorang Muslimah, memakai hijab syar’i tentu menjadi awal langkah yang baik. Memilik pakaian termasuk pilihan dari pandangan hidup. Hatta, mereka hobi tel4njang di tempat umum (nudist) meski itu jelas tindakan amoral, jika ditanya alasannya, ujungnya pasti untuk ‘menunjukkan identitas dan ideologi’. Yang pasti ‘ideologi ketelenjangan’.
Dalam buku “Dress and Ideology- Fashioning Identity from Antiquity to the Present”, orang Barat sendiri meyakini, gaun dan fashion adalah sarana visual yang kuat untuk mengkomunikasikan ideologi, politik, sosial atau agama seseorang atau kelompok.
Karena itu, jika pilihan saya dengan jilbab panjang (jilbab syar’i) juga pasti dengan pilihan yang tidak sembarangan. Sebab pilihan ini didasarkan firman Allah;
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya …” (QS. An-Nur [24]: 31).

Komentar
Posting Komentar