Langsung ke konten utama

TERUNTUK KAMU

Gagal? Iya, lebih parahnya lagi aku mengalami dua kegagalan dalam waktu yang bersamaan. Kegagalan pertamaku adalah memilikimu dan kegagalan keduaku adalah melupakanmu.
"Saat gagal menyapa, bukan berarti aku harus menyerah. Belajar dari kalah untuk menang. Belajar dari patah untuk kuat. Sebab diriku tak tau jalan mana yang akan membawaku terlepas dari semua ini."
Jika mendengar kata itu aku bersemangat tapi tidak jarang aku benci kata-kata itu, seolah-olah kata-kata itu sedang mengejekku.
Aku telah lelah selalu bergelut dengan masa lalu. Aku ingin bebas! Aku ingin terlepas! Bebaskan aku! Ku mohon siapapun itu.
"Teruntuk kamu. Tolong lihat langit itu, karena disitu ada setitik rindu yang kutitip."
Setiap titik itu selalu kusimpan untukmu. Iya, hanya untukmu seorang. Setitik itu akan menjadi tumpukkan rindu yang semoga saja kau dapat melihatnya dan kau dapat pula merasakannya. Merasakan bahwa ada seseorang yang sedang merindukanmu. Disini!
"Bak orang asing yang saling terdiam"
Seolah-olah menjadi saling tak mengenal untuk keberkian kalinya. Diam? Apakah itu caramu menunjukkan kebenciaanmu? Apakah dengan diam dapat membuatmu terbebas dari semua ini?
"Aku tau melupa tak semudah yang dikira, lantas biarkan aku menikmatinya."
Kapasitas memori otakku tak begitu besar . Otakku hanya mampu menyimpan hal-hal penting saja. Jika aku melupakan sesuatu otomatis hal tersebut tak begitu penting bagiku. Begitupun sebaliknya, jika aku mengingat hal sekecil apapun itu berarti sangat berharga bagiku. Apakah kau termasuk kedalamnya? Iya, kau termasuk orang yang selalu ku simpan dalam memoriku. Bahkan kau ku simpan sangat rapi didalam pikiranku.
"Teruntuk kamu yang selalu kurindu"
Taukah kau rinduku ini tak pernah tertunda. Rinduku selalu berhasil terkirim kepadamu. Tapi sayangnya, kau menolak rindu itu.
Lagi-lagi rindu itu tak izinkan temu antara kau dan aku. Hingga rindu ini semakin erat mendekapku. Sehingga diriku kian berlabu pada hati yang semakin jauh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...