Gagal? Iya, lebih parahnya lagi aku mengalami dua kegagalan dalam waktu yang bersamaan. Kegagalan pertamaku adalah memilikimu dan kegagalan keduaku adalah melupakanmu.
"Saat gagal menyapa, bukan berarti aku harus menyerah. Belajar dari kalah untuk menang. Belajar dari patah untuk kuat. Sebab diriku tak tau jalan mana yang akan membawaku terlepas dari semua ini."
Jika mendengar kata itu aku bersemangat tapi tidak jarang aku benci kata-kata itu, seolah-olah kata-kata itu sedang mengejekku.
Aku telah lelah selalu bergelut dengan masa lalu. Aku ingin bebas! Aku ingin terlepas! Bebaskan aku! Ku mohon siapapun itu.
"Teruntuk kamu. Tolong lihat langit itu, karena disitu ada setitik rindu yang kutitip."
Setiap titik itu selalu kusimpan untukmu. Iya, hanya untukmu seorang. Setitik itu akan menjadi tumpukkan rindu yang semoga saja kau dapat melihatnya dan kau dapat pula merasakannya. Merasakan bahwa ada seseorang yang sedang merindukanmu. Disini!
"Bak orang asing yang saling terdiam"
Seolah-olah menjadi saling tak mengenal untuk keberkian kalinya. Diam? Apakah itu caramu menunjukkan kebenciaanmu? Apakah dengan diam dapat membuatmu terbebas dari semua ini?
"Aku tau melupa tak semudah yang dikira, lantas biarkan aku menikmatinya."
Kapasitas memori otakku tak begitu besar . Otakku hanya mampu menyimpan hal-hal penting saja. Jika aku melupakan sesuatu otomatis hal tersebut tak begitu penting bagiku. Begitupun sebaliknya, jika aku mengingat hal sekecil apapun itu berarti sangat berharga bagiku. Apakah kau termasuk kedalamnya? Iya, kau termasuk orang yang selalu ku simpan dalam memoriku. Bahkan kau ku simpan sangat rapi didalam pikiranku.
"Teruntuk kamu yang selalu kurindu"
Taukah kau rinduku ini tak pernah tertunda. Rinduku selalu berhasil terkirim kepadamu. Tapi sayangnya, kau menolak rindu itu.
Lagi-lagi rindu itu tak izinkan temu antara kau dan aku. Hingga rindu ini semakin erat mendekapku. Sehingga diriku kian berlabu pada hati yang semakin jauh.
Komentar
Posting Komentar