Hai! Buat kau yang tak pernah bosan aku sapa sampai saat ini.
Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau sedang burpura-pura sibuk didepanku? Tak apa, ini hanya sebuah kalimat yang tak berarti yang selalu ku suguhkan untukmu. Baru saja tadi pagi kau pamit padaku, ntah kenapa aku merasa ada yang hilang. Taukah kau sesuatu yang hilang itu? Dirimu. Iya, kau. Ingat pertama kali kita bertemu? Sedikit canggung dan malu-malu,namun itu lucu.
Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau sedang burpura-pura sibuk didepanku? Tak apa, ini hanya sebuah kalimat yang tak berarti yang selalu ku suguhkan untukmu. Baru saja tadi pagi kau pamit padaku, ntah kenapa aku merasa ada yang hilang. Taukah kau sesuatu yang hilang itu? Dirimu. Iya, kau. Ingat pertama kali kita bertemu? Sedikit canggung dan malu-malu,namun itu lucu.
Aku hanya ingin bertanya kabar saja tadi, tapi kenapa sampai kepembahasan ini, ya? Jangan lupa kopi hitam manis yang biasa menemanimu bercengkrama bersama dinginnya pagi yang ditemani dengan kursi kosong yang tepat disebelah kirimu. Satu saat nanti akulah yang akan mengisi kursi kosong itu dan akulah yang akan bercengkrama denganmu.
Kuharap kopi hitam itu saat malam yang tak kala dinginnya dengan suasana pagi akan tetap hangat, dan tentunya selalu setia padamu.
Mungkin saja kau mengira ini terlalu berlebiahan. Tapi, inilah aku. Terlalu kuat menggenggam rasa terhadap seseorang. Terutam padamu. Gurauan serta semangat yang selalu mengejek kita dikala senja dulu, kini hilang. Ya, kau pasti paham bagaimana rasanya jika hal yang kau sukai ditarik paksa untuk menghilang, meskipun sesaat [mungkin]. Lamanya aku tak tau sampai kapan, tapi sesuai yang kau katakana. Hanya beberapa saat saja [kuharap ini benar]. Sampai jumpa di hari-hari berikutnya, kuharap kau tak pernah bosan untuk tetap menjadi aktor disetiap tulisanku. Ahlam sa’iidah. Aku sengaja mengucapkannya sekarang, agar nanti jika aku lupa, ucapan itu telah kusampaikan padamu. Disini.

baper....
BalasHapusDuh jangan baper za,berat. biar mereka aja😂
Hapus