Langsung ke konten utama

UNTUK APA?



PENGECUT!!
Iya kau memang benar..

Huruf saja membutuhkan jeda agar bisa terbaca
Lalu, kenapa kau masih bertahan dan memaksa hati terluka lebih parah?

Berhentilah sejenak atau jika kau bisa tak perlu lagi kau teruskan
Untuk apa terus berjuang dan pada akhirnya hanya berbuah sia-sia?

Setiap diri membutuhkan jeda..
Semua memiliki titik jenuh..
Dan semua pasti akan lelah pada akhirnya
Bukankah begitu?

Lalu, untuk apa kau terus paksakan hatimu untuk bertahan?
Bukankah itu akan sia-sia?

Semua butuh jeda..
Bahkan jika semua tulisanku tidak memiliki rangkaian jeda pasti kau sulit membacanya, bukan?
Kau lihat sebuah koma pada susunan kalimat yang ku buat?
Ku yakin kau pasti memahami apa maksudnya, bukan?
Dan kau lihat titik disetiap paragraf?
Maksud dari titik itu adalah agar kau tau dimana seharusnya berhenti

Bukankah yang memiliki awal pasti akan menemukan akhir?
Begitu pula dengan kisah ini..

Jika bukan tersebab sesuatu yang pasti,
Tentu kau akan berakhir juga, bukan?

Tak perlu meratap atau pun mengemis kasih
Untuk apa?
Untuk apa kau lakukan untuk seseorang yang tak pernah melihatmu
Menganggapmu pun tidak
Menyapamu pun enggan

Untuk apa?
Berhentilah sejenak..
Sebentar saja

Beri sedikit ruang dihatimu untuk belajar bagaimana istirahan dengan baik
Tanpa memaksa meninggalkan dan melupa

Tapi..
Berilah waktu sejenak agar kau tau berapa banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk memikirkannya

Sejenak saja..
Jika kau sudah nyaman,
Untuk apa lagi kembali?

Dan..
beri hatimu kebebasan untuk kembali terpaut pada sang pemilik hati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...