: Kematian Akan Luka
Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah.
Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan.
Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan.
Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini.
Jika ini semua adalah permainanmu, ajari dan beritahu aku apa yang harus aku lakukan agar permainan ini cepat selesai. Sadarkah kau, aku lelah masuk dalam permainan konyol ini.
Inikah permainanmu?
Inikah caramu menyakitiku?
Apakah dengan melihat tangisku berarti bahagia buatmu?
Apa dengan menoreh luka dihatiku berarti kemenangan bagimu?
Inikah caramu menyakitiku?
Apakah dengan melihat tangisku berarti bahagia buatmu?
Apa dengan menoreh luka dihatiku berarti kemenangan bagimu?
Sudah ku katakan dari awal permainanmu ini adalah permainan yang konyol. Kau pun sudah terlalu jauh melakukan kecurangan. Curang? Iya, karena dirimu tak membiarkanku mengetahui cara bermain yang baik. Kau hanya bermain sendiri dan seolah-olah aku adalah objek dari permainan ini.
Siapa aku dimatamu?
Hingga begitu sulit kau lepaskan aku dari jeratanmu!
Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
Hingga begitu sulit kau lepaskan aku dari jeratanmu!
Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
Dalam permainan ini aku hanya mampu mengambil kesimpulan sendiri. Terlepas dari benar atau nggak, yang pasti didalam permainan ini kau adalah aktornya sedangkan aku adalah objeknya. Seperti yang kukatakan kau adalah pemeran utama jadi kaulah yang mengendalikan ku.
Mengapa kau selalu memperlakukanku seperti mainan?
Kapan kau ajari aku kebebasan?
Ajari aku caranya melupakan!
Sehingga aku lupa caranya menanggis,
Sehingga aku lupa caranya meratap.
Kapan kau ajari aku kebebasan?
Ajari aku caranya melupakan!
Sehingga aku lupa caranya menanggis,
Sehingga aku lupa caranya meratap.
Pertanyaan terakhirku, kapan permainan ini kau HENTIKAN?! Sampai aku lelah? Atau, sampai aku mengaku kalah? Oke mulai detik ini, aku telah lelah dan aku mengaku kalah. Kaulah pemenang dari permainan ini. Apa kau puas?!
Nyatanya derai airmataku ini hanya disebabkan olehmu. Aku hanya ingin tertawa sehingga hati aku mati rasa akan luka.
Komentar
Posting Komentar