Tulisan ini adalah tulisan yang kesekiannya aku tulis untuk orang hebat yang tak pernah tergantikan posisinya
Iya, tulisan ini untuk ayah
Ayah..
Aku tak tau kata yang pantas ku berikan untuk mu itu seperti apa
Aku tak mampu membalas kebaikan ayah dari sebelum aku ada di dunia hingga aku sebesar ini
Ayah..
Sekarang kau tak seperti dulu
Sekarang kau tak sekuat dulu
Rambutmu pun kini tak sehitam dulu
Tapi ayah tenang saja, meskipun begitu kau tetap gagah dihadapanku
Ayah..
Aku suka sedih jika mengingat ayah
Tapi ayah selalu kuat didepan ku, tak pernah sekalipun aku dengar ayah mengeluh
Tapi, seringkali anakmu ini suka sekali mengeluh
Jika dibandingkan dengan ayah lelahku ini tak ada apanya ketimbang lelahmu
Kau yang dari pagi bekerja tanpa kenal lelah, tapi seakan-akan lelahku melebihi ayah
Ayah..
Maafkan aku..
Maafkan keegoisanku selama ini..
Setiap pulang sekolah ayah selalu bertanya “nak, bagaimana disekolah mu tadi?”
dengan cueknya aku bilang “sudahlah yah aku capek baru pulang sekolah ayah langsung menanyaiku”
Dasar bodoh, iya aku sangat bodoh waktu itu. Aku hanya memikirkan lelahku saja, tidak ada sama sekali ku fikirkan mengenai lelahnya ayah, begitu panasnyaa ayah saat bekerja dan seberapa banyak keringat yang ia keluarkan. Sedangkan aku, saat disekolah aku tak merasa panas, ruangan kelas yang nyaman, jika aku kepanasan aku tinggal menghidupkan kipas angin, jika aku lapar aku langsung mengajak teman ku ke kantin lalu makan, tertawa bersama mereka. Hanya itu yang ku lakukan tapi ketika tiba dirumah aku mengeluhkan lelahku kepada ayah. Ternyata semua yang kulakukan itu hanya lah sebuah alibi agar ayah tak menyuruhku ini itu.
Ayah selalu sabar menghadapiku. Tapi seringkali aku terlambat menyadarinya
Menyadari bahwa ayah adalah orang yang teramat sabar menghadapiku
Saat aku kecil, jika aku melakukan kesalahan kau hanya mengatakan
“nak, itu tidak boleh. Jangan di ulangin lagi yaa”
Namun, sekarang sudah berbeda. Perlakuan ayah saat ini sangat beda.
Sekarang jika aku melakukan kesalahan, ayah hanya diam. Ketika aku bertanya ayah kenapa? ayah hanya menjawab
“kamu sudah besar, nak. Ayah rasa tak perlu lagi ayah menasehatimu, karna kau kini sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagimu. Apapun itu keputusan mu pasti itu baik dan ayah pasti setuju”.
Ayah..
Untuk saat ini dan seterusnya aku akan menyanyangi ayah..
Aku akan terus berusaha selalu ada disamping ayah
Aku tak ingin mengeluh lagi didepan ayah
Ayah..
Ku harap kau tak pernah bosan mendidikku
Aku ingat ayah pernah meneteskan air mata saat aku jatuh sakit
Tau kah ayah, aku tak pernah melihat sekalipun ayah menangis tapi saat itu aku menyadari bahwa aku adalah sumber kebahagiaanmu tapi tenyata aku juga bisa menjadi sumber kesedihanmu.
Ayah..
Kau tak perlu khawatir saat ini,
Karna anakmu ini akan selalu menjaga ayah
Dan takkan kubiarkan airmata ayah terjatuh untuk kedua kalinya
Itu janjiku, yah..
Sesekali aku sering membayangkan kelak aku akan menikahi seeorang yang seperti ayah
Meskipun begitu posisi ayah takkan pernah tergantikan.
Karna ayah adalah cinta pertamaku
Cinta yang barang kali tak akan ku temui pada siapapun kecuali hanya pada ayah
Terimah kasih ayah..
Terimakasih atas cinta yang telah kau berikan padaku

Komentar
Posting Komentar