Langsung ke konten utama

Reason I'm Writing




Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku

Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu]
Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu.

Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat.
Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja. 
  
Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau baper, ahaa.

Beberapa bulan lalu kebiasaan menulisku telah kutinggalkan. Kupikir aku tak punya lagi alasana untuk menulis. Karna sering kali pikiran jahatku tiba-tiba datang dan menimbulkan petanyaan.  Kenapa aku menulis ini, dan untuk siapa?
Pertanyaan ini yang seketika menjadi tembok beton penghalang yang tak bisa kutembus dengan ketikan jari-jari diatas keyboard laptopku. Jari-jariku tidak kuat, atau mungkin belum kuat untuk menuliskan nama orang lain.

Aku juga mungkin belum mampu menuliskan alasanku kenapa aku memilihmu untuk menjadi aktor ditulisanku. Jariku belum kuat untuk menyusun susunan kata lain kusandingkan dengan namaku ditulisan yang kubuat.

Dasar lemah!
Iya, kuakui jariku sangat lemah untuk menulis tentang apa-apa yang bukan tentangmu. Kondisi inilah yang terkadang membuat ku jarang mengupdate tulisanku di blog akhir-akhir ini. Kau pasti memperhatikannya,bukan?
Aku tau kau sering mengunjungi blogku untuk memantau kejadian konyol apa yang tengah kita lakukan tanpa kita sadari bersama.

Hari ini kita bertemu. Bertemu tanpa disengaja. Apakah kau percaya kata “tidak sengaja”, “tiba-tiba”, atau “kebetulan”? aku tidak pernah mempercayai semua kata tersebut. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karna seberapa tertatanya kita merencanakan sebuah pertemuan ada campur tangan sang pencipta yang selalu meraciknya hingga itu benar-benar terjadi.

Apakah kamu mau mengulangi semua yang telah kita lalui dulu sekali lagi? Menjadi objek tulisan-tulisanku yang baru. Jika kamu mau, syaratnya aku harus lebih mengenalmu melebihi yang dulu.
Tapi kenapa aku harus minta izin padamu? Padahal semua tulisan yang ku buat tidak ada satupun yang minta izin padamu. Tetiba kutulis dan kau baca. Dan terkadang kau sedikit berceloteh karna ada beberapa bait dari tulisanku yang menurutmu tidak sesuai, hahahh.

Ini harapanku yang tidak akan pernah kutinggalkan. Semoga kau selalu berkenan menjadi aktor disetiap coretan tinta nakalku, dan selalu menjadi alasanku untuk menulis kembali.



Tertanda,

Penulis nakalmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...