Langsung ke konten utama

Esok Aku akan Memulai Hati yang Baru [Percayalah]



Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabar darimu, Terkadang terbesit rasa ingin kembali tetapi aku sadar jika “Angin yang berhembus ditempat yang sama akan berbeda arahnya” .


Jika harus mengingat kembali pertemuan kita sangat sederhana, berawal saat kau bercerita disalah satu chat sosmed tentang hubunganmu dengan dia yang sempat goyah dan akhirnya berakhir, aku yang mungkin saat itu hanya sekedar menguatkanmu. Hari demi hari berlalu, kita semakin nyaman dengan apa yang kita bahas dan akhirnya rasa ingin memiliki itu tumbuh, masih sangat jelas teringat saat aku mengungkapkan isi hati yang sebenarnya dan engkau membalasnya dengan senyum manis dan mengatakan ‘iya’


Karaktermu yang sedikit cuek dan tidak mau tahu kubalas dengan perhatian yang lebih, Masih sangat teringat jelas dibenakku saat engkau malas mengerjakan tugas kuliahmu,aku berusaha menyemangati dan memberi target tugasmu harus selesai saat ini karena deadline tugasmu besok.


Saat aku bertanya “Hey,” Tugas kuliahmu gimana? Apakah Sudah Selesai ? dan kamupun menjawabnya “Sudah selesai sesuai target”
Senang rasanya mendengar jawaban itu.


Begitupun dengan aku, Sifatku yang tidak bisa mengontrol Ego engkau menimpalinya dengan kata-katamu dan rangkulan yang membuat aku tenang.Ternyata kita begitu mengimbangi.
Ada masanya dimana kita tidak sependapat lagi, dan ada masanya juga suatu masalah harus diselesaikan dengan jalan perpisahan.


Berhenti menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan, berhenti mengasihani diri sendiri, itulah caraku menyembuhkan apa yang aku rasakan, berbanding terbalik denganmu yang mudah memasang wajah tidak peduli, jika kamu harus tau, proses penyembuhanku berlangsung secara pelan dan pelan. Dihari pertama setelah kita tidak bersama lagi, aku kerap terlarut dalam luapan emosi dan ego yang datang dengan tiba-tiba.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...