Langsung ke konten utama

Aku Pergi Bukan Untuk Bersembunyi



“Terkadang, selamat tinggal berarti untuk selamanya dan perpisahan adalah akhir dari sebuah cerita. Dia yang memilih pergi mungkin telah berbahagia. Tapi yang PASTI BISA menyusulnya kemudian.”


Aku adalah perempuan yang tidak menyukai segala bentuk perpisahan. Perpisahan saat lulus dari sekolah, perpisahan dengan keluarga di bandara, perpisahan dengan teman-teman karena liburan kuliah, hingga perpisahan yang tidak menyertakan kata “selamat tinggal”. Perpisahan tanpa sebuah ucapan adalah perpisahan yang paling menyedihkan. Pada dasarnya, semua manusia memiliki otak dan ingatan yang otomatis menyimpan semua hal yang telah terjadi. Apakah iya, benar-benar tidak ada satu pun kenangan baik antara dua orang, hingga salah satu pihak tidak pantas mendapatkan ucapan selamat tinggal?


Bagi ku, lebih baik orang tersebut mengucapkan “kita putus ya!” atau "selamat tinggal, jangan pernah temui saya lagi!" yang menandakan suatu hubungan betul-betul berakhir. Tegas. Dengan titik. Bukan dengan koma ataupun tanda tanya. Perpisahan dengan ucapan paling menyakitkan akan jauh lebih baik dibandingkan ditinggalkan mentah-mentah tanpa satu katapun.


Lebih baik dibandingkan  harus bingung antara bertahan atau meninggalkannya
Lebih baik daripada terus menunggunya tanpa tau kapan dia akan kembali.
Lebih baik daripada terus mencintainya tanpa tau ternyata dia telah berhenti mencintai sejak lama.
Lebih baik jika kami menjadi teman atau sekedar kenalan yang tidak perlu lagi melibatkan diri di kehidupan masing-masing.


Akan lebih mudah untuk ku melanjutkan hidup, karena sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk terhenti di ruang kenangan itu. Aku harus berhenti berharap lalu hatiku akan mantap untuk melangkah maju tanpa perlu terus menerus menantinya lagi. Saat ini aku paham, semua manusia punya batas waktunya di kehidupanku. Mereka datang dan pergi. Mereka ada di suatu masa untuk membuat ku bahagia. Aku menerimanya.


Ketika diri ini bersedia menerima kehadiranmu, maka akupun telah mempersiapkan diri untuk menerima keputusannya jika suatu hari kamu ingin keluar dari hidup ku. Aku tidak akan memohon-mohon agar kamu tetap tinggal. Maaf, aku bukan tipe orang yang suka mengekang seseorang dari kebebasannya. Aku pasti akan melepaskannya dengan lapang dada asalkan dia mengucapkan selamat tinggal padaku..


Jadilah seperti awan yang memberi mendung; agar aku bisa sedia payung sebelum hujan.
Dan untuk mu jangan lupa ucapkan selamat tinggal, agar aku bisa sedia ketabahan sebelum kamu pergi.











Bukittinggi, 8 Maret 2019

Tertanda,

Manusia yang tak pernah bosan menuangkanmu dalam coretan tinta nakalku :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...