:Aku Akan Pergi Jika Kau yang Memintanya
“Nggak mau,” aku berangsur menjauhinya, membuatnya bersingkut mendekatiku. “Fia maunya main. Fia gak mau belajar!” yaudah kalo kamu gak mau belajar. Gak papa, aku belajar sendiri aja ya Fia.
Aku tak tau yang kulakukan ini benar atau tidak, tapi yang pasti aku ingin menenangkan hatiku terlebih dahulu. Ya, mungkin salah satu caranya dengan menjauh dari Rara. Rara adalah sahabat seperjuanganku. Kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan Rara pun teman sebangku ku di kelas. Setiap kejadian apapun selalu kuceritakan padanya.
Hingga ketika itu aku bercerita mengenai sosok laki-laki yang mampu membuatku terkagum-kagum. Awalnya dia sangat antusias mendengarkannya, bahkan dia sangat setuju jika aku mengenalnya lebih jauh.
Ketika berada di kelas aku sangat antusias dan bersemangat bercerita pada Rara.
“ Ra, tadi malam dia chat aku dan menanyai kabarku loh”.
“Wah benar kah?” Rara menjawab dengan ekspesi riang, akupun senang melihatnya.
Dari sekian lama aku bercerita tiba-tiba Rara ingin menyampaikan sesuatu. Dan betapa terkejutnya aku mendengar perkataannya. Ia memberitahu ku bahwa ia ingin membantu ku supaya bisa semakin dekat dengan laki-laki yang ku kagumi itu. Sepontan saja aku langsung mengiyakan perkataan Rara itu.
Sekian lama Rara membantu ku mendekatinya, dan semakin lama pula aku tak mendengar cerita bahkan perkembangan apapun. Dan aku mulai berpikiran bahwa ia telah menemukan yang lain. Pun sembari bercerita kepada Rara tentang dia yang tak pernah lagi menanyai kabarku dan tak pernah lagi ku dengar sapaannya setiap pagi.
Rara pun langsung merespon dengan ekspesi santai seakan-akan ia acuh terhadap masalah yang kuhadapi. Tak biasanya Rara sepert itu. Aku pun hanya berpikiran bahwa mungkin saja Rara sedang ada masalah atau ia lagi memikirkan sesuatu. Ntah lah.
Sekian lama aku tak tau kabar dia aku pun lamat laun mulai menyadari mungkin dia telah pergi dan aku mencoba mengiklaskannya.
Aku hanya tidak ingin terlalu terpuruk dengan apa yang tak seharusnya di pikirkan. Dan tak seharusnya juga aku memikirkan apa yang tak pernah memikirkanku. Jelas bukan?
Aku bukan orang yang terlatih untuk tetap kuat, aku bukanlah wanita yang tak butuh penopang saat aku mulai terjatuh. Aku adalah wanita lemah yang selalu sok tegar didepan siapapun.
Hari ini hari pertama ku hijrah. Hari pertamaku juga yang akan ku lalui sendiri tanpa Rara. Sahabatku yang dulu ku kira kami berdua akan tetap terus bersama. Hingga saatnya kami tidak sejalan lagi. Eits, mungkin yang lebih tepatnya akulah yang memilih ingin berjalan sendiri tanpa harus beriringan dengannya.
Jujur saja hari ini cukup sulit ku lalui tanpa seorang sahabat disampingku. Hari dimana aku telah melabuhkan diriku ada keadaan yang lebih baik lagi dengan cara berhijrah.
Awalnya sewaktu Rara datang ia menyapa ku, dan aku pun tak meresponnya sedikitpun. Ku kira dengan kejadian itu ia bisa memahaminya, tapi ternyata ia tak paham dan belum mengerti apa alasanku melakukan itu.
Ra, aku tak tau alasanmu melalakukan itu apa, yang ku tau kau adalah sahabat ku tak ada sedikitpun terbesit dipikiran ku bahwa aku akan membencimu. Tapi kali ini maaf Ra, aku tidak bisa menerimanya. Aku belum siap dihianati oleh orang yang sangat aku percayai. Dulunya.
“Fia, kamu kenapa kok akhir-akhir ini beda banget. Kamu sakit?”
Tak ada satu pertanyaan Rara pun yang ku jawab aku hanya diam dan sesekali ku alihkan pandangan ku kearah luar. Sembari memerhatikan laki-laki yang sempat membuatku terkagum-kagum karnanya. Sembari mata ku yang tak berpaling, secara bersamaan pula ku alihkan pandangan ku pada Rara. Dan ternyata ia juga sedang memperhatikannya.
Bodoh. Iya, kau bodoh Fia. Mengapa kau masih saja memperhatikan orang yang jelas-jelas telah milik sahabatmu sendiri.
Jangan melakukan hal bodoh itu Fia. Please, ku mohon. Sampai kapan aku harus menahan ini? Sampai kapan aku harus tetap baik-baik saja di depan orang yang telah berhianat ini? Dan sampai kapan aku harus berpura-pura tak tau apa-apa? Sampai kapan?
Ra, aku tak ingin aku sendiri yang membongkar semua ini. Aku ingin kau sendiri lah yang bercerita tentang rahasia besar yang telah kau sembunyikan dengannya pada ku. Aku janji aku takkan marah pada kalian. Tapi jika kau memilih untuk tetap merahasiakannya padaku, ya dengan terpaksa aku akan bertindak. Terlepas kau menyukai tindakan ku atau tidak.ingat Ra, sepintar apapun kau menyimpaan bangkai pasti akan tercium juga. Dan sepintar apapun kau menyimpan rahasia itu aku pasti akan mengetahuinya.
Sadarkah kau Ra, bahwa kita sudah hampir satu pekan ini tidak saling sapa. Kau lupa, atau kau berpura-pura tak menyadarinya? Atau kau sedang menyibukkan dirimu dengannya? Iya Ra, aku sadar bahwa aku bukanlah apa-apa bagimu, dan mungkin saja kau tak menganggapku sahabat lagi.
Hari ini tepatnya seusai olahraga aku mencoba memulai pembicaraan pada Rara. Awalnya aku binggung mau mulai dari mana. Alhasil aku mencoba memancingnya dengan beberapa ledekan kecil.
“wah, ku lihat sekarang kau semakin dekat dengannya”
“apa maksud dari perkataanmu ini, Fia? Aku tak mengerti”. Dengan nada suara yang agak bergetar dan heran.
“Mengapa kau harus menyembunyikannya? Sudah la Ra aku sudah tau semuanya”. Suaraku sudah ampir melampaui volume biasanya, aku tlah tersulut emosi.
Agar tak semakin memanas aku memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Rara seorang diri. Sebelumnya kami tak pernah berada pada situasi seperti ini. Akupun tak tau apa yang harus ku lakukan. Ku kira dengan kejadiaan itu bisa membut dia sadar atas kesalahannya ternyata tidak.
Secara tidak langsung dia telah memberikan signal bahwa ia lebih memilih laki-laki itu ketimbang aku, sahabatnya yang sudah lama dikenalnya dan ia lebih memilih orang yang baru ia kenal. Terimakasi atas pilihanmu.
Aku mencoba selalu berpikiran dewasa menanggapi permasalahan ini. Aku mencoba meredakan emosi dan aku mulai tak ambil pusing dengan masalah ini, kuanggap semua ini adalah sebuah ujian yang harus kulalui dan benar saja jika masalah itu lambat laun bisa ku lupakan.
Beberapa hari setelah kejadian itu, tepatnya pukul 08.00 WIB, aku menemukan surat diatas mejaku. Awalnya aku tak tau itu surat dari siapa ku kira itu surat izin yang dititipkan ke aku untuk diberikan pada guru yang mengajar hari ini. Tapi ternyata surat itu dari Rara. Betapa terkejutnya aku membaca surat itu. Aku tak mengira persahabatan kami hanya sebatas ini, persahabatan kami hancur hanya karna seorang laki-laki.
Mungkin kamu akan bingung baca surat ini. Atau malah sedih, marah, kecewa.. tapi biar saja. Daripada terus aku pendam, bisa bikin ubanan. Jujur awalnya aku memeng berniat membantumu untuk jadian sama Rival. Tapi niatku berubah setelah aku mulai chatingan sama dia aku merasa dia adalah sosok laki-laki idamanku. Makanya sejak itu aku mulai menyukainya dan aku tak berniat lagi membantumu mendekatinya. Aku telah jatuh cinta padanya. Dan kami udah jadian sejak satu bulan yang lalu. Tepatnya sebelum kita seperti sekarang. Terserah kau mau bilang aku apa yang pasti aku sudah sangat menyukainya.
-rara-
Aku terkesiap membaca surat itu. Air mataku kembali luruh. Kemana saja kesadaranku selama ini? Kenapa aku tak menyadarinya dari awal. Aku mungkin saja tak berhak lagi atas semuanya tapi aku hanya ingin mengatakan selamat atas kebahagiaan kalian berdua. Tenang saja aku baik-baik saja, disini dan tanpa kalian. Iya, karna aku sudah terbiasa dengan kesendirianku. Lagi.

Komentar
Posting Komentar