Langsung ke konten utama

AHLAM SA’IIDAH




Hai! Buat kau yang tak pernah bosan aku sapa sampai saat ini.
Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau sedang burpura-pura sibuk didepanku? Tak apa, ini hanya sebuah kalimat yang tak berarti yang selalu ku suguhkan untukmu. Baru saja tadi pagi kau pamit padaku, ntah kenapa aku merasa ada yang hilang. Taukah kau sesuatu yang hilang itu? Dirimu. Iya, kau. Ingat pertama kali kita bertemu? Sedikit canggung dan malu-malu,namun itu lucu.
Aku hanya ingin bertanya kabar saja tadi, tapi kenapa sampai kepembahasan ini, ya? Jangan lupa kopi hitam manis yang biasa menemanimu bercengkrama bersama dinginnya pagi yang ditemani dengan kursi kosong yang tepat disebelah kirimu. Satu saat nanti akulah yang akan mengisi kursi kosong itu dan akulah yang akan bercengkrama denganmu.
Kuharap kopi hitam itu saat malam yang tak kala dinginnya dengan suasana pagi akan tetap hangat, dan tentunya selalu setia padamu.
Mungkin saja kau mengira ini terlalu berlebiahan. Tapi, inilah aku.  Terlalu kuat menggenggam rasa terhadap seseorang. Terutam padamu. Gurauan serta semangat yang selalu mengejek kita dikala senja dulu, kini hilang. Ya, kau pasti paham bagaimana rasanya jika hal yang kau sukai ditarik paksa untuk menghilang, meskipun sesaat [mungkin]. Lamanya aku tak tau sampai kapan, tapi sesuai yang kau katakana. Hanya beberapa saat saja [kuharap ini benar]. Sampai jumpa di hari-hari berikutnya, kuharap kau tak pernah bosan untuk tetap menjadi aktor disetiap tulisanku. Ahlam sa’iidah. Aku sengaja mengucapkannya sekarang, agar nanti jika aku lupa, ucapan itu telah kusampaikan padamu. Disini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reason I'm Writing

Dear teruntuk kamu yang tak pernah bosan ku tuangkan dalam coretan tinta nakalku Hai kamu. Iya kamu, ehee. Apa kabar? Masih sibukkah? Atau kau masih saja seperti dulu, berpura-pura tak tau tapi memerhatikan dari jauh? [dududu] Tulisan ini ku buat di kota kelahiranku. Ternyata tempat ini sangat cocok untuk mengimajinasikanmu. Dulu kita sering bertemu dengan cara seperti ini. Tentu kau masih ingat kebiasaan kita dulu? Aku mengagumimu dari jauh, dan kau membaca kekagumanku melalui tulisan yang kubuat. Aku hanya membuat tulisan yang hanya kita yang mengerti, pengalaman kita, hingga status hubungan yang hanya dimengerti oleh kita saja.     Hari ini kita bertemu kembali. Perasaanku yang dulu datang lagi. Kemampuan menulisku yang hilang kini telah pulang. Aku masih menjadikanmu topik disetiap tulisanku. Iya kau masih menjadi hal yang menarik untuk menciptakan serangkaian kata-kata gaje yang sebagian orang yang membaca tulisaanku sering sekali protes karna terlampau...

Rahasiaku Tentangmu

Tak semua sedih harus dituliskan Tak semua kesakitan bisa dipenakan Luka ini tak sedramatis itu untuk diabadikan Dan waktu.. Terlalu singkat untuk mengeluh dengan sesuatu yang terlewatkan Aku menulis.. Bukan hanya untuk mengingat tentang luka yang tergores yang kualami Sebenarnya.. Tak perlu aku repot menggali kisah yang pernah kau tinggalkan pada tiap relung malam lalu Ada begitu banyak cerita yang mungkin bisa aku jadikan ladang puisi Namun, Aku memilih meninggalkan dan menyimpannya dalam memori Cukup.. Aku tak ingin lagi mendampingkan bahagiaku saat ini dengan duka masa silam yang dengan senyum tipis mampu kau rajut air mataku disetiap malam Cukup.. Aku tak ingin lagi membuka lembar-lembar itu Tapi.. Aku memilih menutupnya rapat-rapat disisi tergelapku Tidak, bukan untuk siapa-siapa Namun, hanya untukku saja Sebagai rahasiaku tentang dirimu Bersama Tuhanku ALLAH 'AZZA WA JALLA.

The Crazy Game

: Kematian Akan Luka Lagi-lagi aku terjebak dalam permainanku sendiri. Permainan yang awalnya ku kira aku dapat menyelesaikannya. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu lelah untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun menyerah dan aku mengaku kalah. Kini kau selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu. Masa lalu dimana kau dan aku selalu bersama dan saling mendoakan serta menyelipkan nama kita disetiap doa yang kita lantunkan. Sadar atau tidak aku membenci itu semua. Aku benci kau yang selalu memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan. Kenangan yang tlah ku hempas jauh-jauh. Kini seolah-olah aku telah terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja dan seakan-akan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan yang selama ini kurasakan. Dalam setiap kenangan kau selalu memaksaku untuk masuk ketika aku menolaknya kau menyeretku untuk kembali dalam kenangan itu. Sampai detik ini aku belum mengetahui apa maksud dari semua ini. Jika ini semua adalah ...